P. Siantar, (Tabloid Polmas Poldasu) - Masyarakat Pematangsiantar khususnya yang tinggal diseputaran Jl Sriwijaya atas Kelurahan Melayu Kecamatan siantar Utara Kota Pematang siantar tak mampu lagi berkata - kata dan kepada siapa lagi mengadu tentang keresahan yang mereka alami.

Pasalnya praktek judi berkedok Gelanggang Permainan (gelper) semakin hari kian meresahkan dan hingga kini belum juga ada tindakan dari Polres Pematangsiantar

Bahkan untuk memuluskan praktek perjudian ini konon pihak penyelenggara memakai jasa oknum wartawan sebagai humasnya guna menstabilkan rekan rekannya sesama wartawan agar tak diberitakan

Salahsatu warga yang namanya tak ingin dipublikasikan Jumat (19/2/2021) kepada awak media menyampaikan keresahannya karna keberadaan gelper tersebut secara lambat laun akan menghancurkan rumah tangganya.

"habis sudah harta kami bang, mobilpun sudah digadaikan suamiku yang sudah kecanduan bermain judi untuk menebus hutang judi,"jelasnya

Bahkan lebih lanjut ia menceritakan sudah merasa tidak kuat lagi menasehati suaminya dan berencana untuk menuntut cerai

Terpisah, praktisi hukum adv. Ikhsan Gunawan, SH sangat menyesalkan tindakan aparat penegak hukum khususnya polres Pematangsiantar yang terkesan tutup mata bahkan melindungi dan diduga seperti sudah distabilkan oleh pihak pihak yang berkepentingan

"seharus polres Pematangsiantar cepat tanggap atas keresahan warga yang semakin merajalelanya judi berkedok gelanggang permainan di jalan Sriwijaya atas ini, bahkan hal ini sudah berulangkali diberitakan media tapi hingga kini belum ada tindakan dan seolah olah mereka ada bermain mata, jadi terkesan gelper ini kebal hukum"jelas ikhsan

Sementara Kapolres Pematangsiantar melalui Kasubag Humas Iptu, Rusdi Ahya saat dikonfirmasi awak media Rabu, (11/2/2021) yang lalu melalui pesan whatsapp hanya membalas "Tks info nya, kita teruskan ke unit reskrim," tetapi hingga kini belum ada tindakan. (BG)

Medan (POLMAS) - Empat terdakwa pencurian uang pemprov Sumut sebesar Rp1,6 miliar divonis Majelis Hakim Erintuah Damanik masing-masing lima tahun penjara.

Perbuatan yang memberatkan masing-masing terdakwa karena mencuri saat sedang umat Islam sedang ibadah sholat Ashar.

"Mengadili, Majelis Hakim memutuskan kepada keempat terdakwa Nico Demus Sihombing, Musa Hardianto, Indra Haposan, dan Niksar Sitorus, masing-masing terdakwa diputus dengan 5 tahun kurungan. Yang memberatkan terdakwa adalah karena telah melakukan pencurian saat sedang jadwal sholat Ashar," kata Hakim di ruang Cakra VI Pengadilan Negeri Medan, Senin (2/3/2020).

Dalam amar putusan hakim, para terdakwa telah melanggar pasal Pasal 363 ayat (1) ke 4e KUHPidana.

Sebelumnya, Jaksa penuntut umum (JPU) Rambo Sinurat memberikan tuntutan yang berbeda. Nico Demus Sihombing dituntut 7 tahun kurungan, Musa Hardianto dan Indra Haposan Nababan dituntut masing-masing 6,5 tahun, dan Niksar Sitorus dituntut 6 tahun kurungan.

Di persidangan, keempat terdakwa mengakui uang tersebut digunakan untuk foya-foya dan bermain wanita.

"Dari mana kalian tahu ada uang di mobil itu ?," tanya majelis hakim yang diketuai oleh Erintuah Damanik.

Terdakwa Musa menjawab bahwa awalnya dia diajak oleh Panjaitan (otak pelaku yang masih DPO) dan mereka duduk di parkiran Bank Sumut seraya menunggu mangsa keluar pada hari Senin tanggal 9 September 2019.

Tak berapa lama, para terdakwa melihat Aldi Budianto dan Indrawan Ginting keluar sambil membawa plastik besar.

"Awalnya saya dijemput untuk menunggu di parkiran Bank Sumut. Kami ikuti mobil mereka (Aldi dan Indrawan) hingga ke parkiran Kantor Gubernur (Sumut). Saya tugasnya mengawasi orang," tandas Musa.

Selanjutnya, hakim Erintuah kembali bertanya.

"Di mana kalian rencanakan mau mencuri uang itu," tanya hakim.

"Pagi direncanakan pak. Saat itu, saya dapat telpon dan bertemu dengan Panjaitan. Tugas saya di luar gerbang Kantor Gubernur untuk mengawasi orang dan menunggu arahan," jawab terdakwa Indra.

Kemudian, terdakwa Nico melanjutkan bahwa mereka tidak memilih siapa korbannya.

"Sasaran kami siapa yang keluar duluan pak," kata Nico.

Nico menyebut bahwa tugasnya yang mencuri uang di parkiran Kantor Gubernur Sumut.

"Setengah jam penumpang mobil keluar, kami langsung beraksi. Kami bongkar bagasi belakang dan alarmnya berbunyi. Kami biarkan aja," sebutnya.

Sedangkan terdakwa Niksar mengakui bahwa mereka membagikan uang hasil curian itu di pinggir jalan dekat Bandara Kuala Namu International Airport.

Saat disinggung hakim berapa upah dari hasil pencurian itu, ternyata masing-masing terdakwa mendapat bervariasi.

"Saya dapat Rp 210 juta. Sebanyak Rp 105 juta sudah saya kembalikan pak," ucap Musa.

"Saya dapat Rp 240 juta. Bayar utang Rp 70 juta, buat DP tanah Rp 50 juta," ucap Indra.

"Saya dapat Rp 200 juta. Sebanyak Rp 150 juta, dibawa lari teman saya yang masih DPO," ucap Niksar.

Sedangkan Nico mendapat upah paling besar lantaran berperan yang mencuri langsung uang tersebut.

"Saya dapat Rp 300 juta. Uangnya saya beli mobil Avanza Rp 160 juta. Mobilnya sudah disita. Saya juga beli kereta Rp 20 juta," jelas Nico.

Namun, hakim bertanya tentang uang sisa hasil curian itu. Awalnya, keempat terdakwa terdiam dan hanya menunduk.

"Jangan menunduk aja, jawab ke mana lagi sisa uangnya. Foya-foya ? Main perempuan ? Ya kan ?," tanya hakim Erintuah.

"Iya pak," jawab keempat terdakwa kompak.

"Itulah kalian, uang setan dimakan setan juga," tandas hakim Erintuah.

Dalam dakwaan tim Jaksa, peristiwa raibnya uang Rp1,6 miliar itu terjadi pada 8 September 2019.

Kejadian bermula saat Pembantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Muhammad Aldi Budianto dan tenaga honorer Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Indrawan Ginting mengambil uang dari Bank Sumut.

Selanjutnya, uang disimpan di dalam mobil yang diparkir di halaman kantor gubernur.

Aldi dan Indrawan kemudian kembali ke kantor dan meninggalkan uang di dalam mobil.

Saat kembali, uang Rp1,6 miliar itu raib.

Kasus itu dilaporkan ke Polrestabes Medan.

Pada Selasa (24/9/2019), polisi mulai menemukan titik terang.

Sepekan kemudian, Selasa (1/10/2019), polisi menangkap empat pelaku pencurian uang Rp1,6 miliar tersebut.

Sementara itu, masih ada dua pelaku buron. (Red)

© 2021 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved