Medan (POLMAS) - Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Baharudin Siagian menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut, Rabu (13/2/2019).
 
Penyidik Subdit III/Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumut memintai keterangan Baharudin Siagian sejak pagi, terkait dugaan korupsi pengerjaan renovasi Tartan Atletik PPLP Provinsi Sumatera Utara Rp 4.797.700.000, pada Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017.
 
"Memang benar, ada Kadispora Sumut diperiksa penyidik Tipikor Poldasu, hari ini. Namun status yang bersangkutan masih sebagai saksi," ungkap Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada wartawan.
 
Menurut MP Nainggolan, Baharudin Siagian diperiksa untuk mendalami proses pelaksanaan pembangunan GOR Serbaguna Pancing. Kasus ini, jelasnya, masih dalam tahap penyelidikan dan Baharudin Siagian berstatus saksi.
 
"Masih penyelidikan," ujarnya.
 
Akan tetapi MP Nainggolan menyatakan, tidak tertutup kemungkinan adanya saksi lain yang akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Setelah itu, penyidik baru akan melakukan gelar perkara untuk menentukan proses selanjutnya.
 
"Hasil gelar perkara itulah nantinya yang akan menentukan, apakah penyelidikannya dilanjutkan hingga ke tahap penyidikan atau dihentikan," pungkasnya.(Red)
Taput (POLMAS) - Enriko Hutabarat (49), warga Sihujur Mula Mula, Kecamatan Tarutung, Tapanuli Utara (Taput), tewas tak lama setelah dipukul adik iparnya sendiri, Selasa (12/2/2019) malam. 
 
Kasat Reskrim Polres Taput, AKP Hendro Sutarno dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (13/2/2019) mengatakan, peristiwa itu berawal sekira pukul 19.30 Wib. Saat itu Enriko sedang duduk-duduk di teras rumah tetangganya Juda Hutabarat, di Desa Sihujur Mula Mula. 
 
Tak beberapa lama kemudian, adik iparnya Robino Marganda Simangunsong (39) bersama istri dan kakaknya–istri Enriko–datang menjumpai Enriko. Tiba di sana, Robino langsung memukul Enriko beberapa kali. Tak puas dengan tangan, adik iparnya itu kemudian menendang tubuh Enriko. 
 
Melihat ada perkelahian, Tomus Hutabarat–tetangga Enriko–yang kebetulan berada di sana kemudian melerai keduanya. Namun karena merasa belum puas, Robino kemudian mendorong Enriko. Akibatnya abang iparnya itu terjatuh lalu terbentur ke tiang rumah. 
 
Saat itu, Enriko langsung berdiri dan pergi menuju ke rumah tetangga lainnya, Banggas Hutabarat, sembari bergumam akan melaporkan apa yang baru saja dialaminya ke polisi. Tiba di kediaman Banggas, Enriko kemudian mengetuk pintu rumah tersebut. 
 
Banggas yang berada di dalam kemudian bergegas membuka pintu. Namun, ketika pintu dibuka, Enriko langsung tersungkur di depan pintu rumah Banggas. 
 
“Saksi Banggas memeriksa korban, dan saat itulah diketahui korban sudah meninggal dunia,” kata Kasat Reskrim Polres Tapanuli Utara, AKP Hendro Sutarno, dalam keterangannya kepada wartawan. 
 
Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada kepala desa setempat yang kemudian meneruskannya ke pihak kepolisian. 
 
“Pada pukul 21.45 Wib setelah mendapat informasi dari Kepala Desa, anggota Polsek Sipoholon beserta anggota Opsnal Reskrim Polres Tapanuli Utara langsung menuju ke TKP dan mengamankan terduga pelaku sudah bersiap lari dari rumahnya,” imbuh Hendro. 
 
Selanjutnya polisi langsung memboyong Robino ke Mapolres Tapanuli Utara menjalani penyidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa sepotong baju kemeja warna putih lengan pendek dan celana jeans panjang warna biru. 
 
“Peristiwa ini sudah dilaporkan secara resmi ke Polres Taput dengan Laporan Polisi nomor: LP/33/II/2019/SU/RES TAPUT/SPKT, tanggal 12 Februari 2019,” kata mantan Kasat Rekrim Polres Binjai itu. 
 
AKP Hendro Sutarno, ketika dikonfirmasi kembali terkait motif penyebab perkelahian tersebut, Rabu (13/2/2019) siang mengatakan, perkelahian keduanya berawal dari pertengkaran keluarga korban. “Berawal dari pertengkaran keluarga. Istri korban adalah kakak pelaku,” jawab Hendro singkat. (Red)
 
 
Jakarta (POLMAS) - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, empat tersangka order fiktif Go-Jek berinisial RP (30), CA (20), RW (24), dan KA (21) telah melakukan aksinya sejak November 2018.
 
Masing-masing tersangka memiliki 15-30 akun yang dapat melakukan transaksi perjalanan hingga 24 kali dalam satu hari.
 
Dalam 24 kali perjalanan itu, satu akun bisa memperoleh keuntungan Rp 350.000.
 
Sehingga, masing-masing tersangka bisa mendapatkan keuntungan mencapai Rp 10 juta per hari.
 
"Satu orang itu mempunyai beberapa akun (Go-Jek), ada yang punya 15 akun, 20 akun, dan 30 akun. Kalau total satu orang bisa mendapatkan Rp 7 juta-10 juta menggunakan satu akun," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (13/2/2019).
 
Argo menjelaskan, tersangka melakukan order fiktif menggunakan telepon genggam dalam satu rumah.
 
Telepon genggam tersebut telah diinstal sebuah software khusus yang bisa membuat seolah-olah terjadi transaksi antara penumpang dan pengendara ojek online.
 
"Seseorang (yang instal software) masih kami cari, belum ditemukan. Dia yang mengutak-atik dan menambah software itu sehingga tersangka bisa mengibuli seolah-olah ada transaksi (perjalanan)," ujarnya. 
 
Akibat perbuatannya, keempat tersangka dijerat Pasal 35 jo Pasal 51 Ayat (1), Pasal 33 jo Pasal 49 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.
 
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap empat tersangka kasus order fiktif transportasi online, di Jelambar, Jakarta Barat, Selasa (12/2/2019).
 
Pengungkapan kasus order fiktif berdasarkan laporan salah satu perusahaan transportasi online di Indonesia, Go-Jek.
 
Ratusan pengemudi angkutan online sepeda motor Gojek mengeruduk Kantor mereka di Komplek Central Business District (CBD), Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara beberapa pekan lalu
 
Para driver Gojek menuntut agar pihak manajemen perusahaan bertindak tegas memberantas para driver yang menggunakan order fiktif untuk mencari poin, dan menaikkan kembali tarif minimum yang sekarang Rp 6.400 menjadi Rp 8000 ribu rupiah kembali.
 
Salah seorang driver Gojek, Rendy yang sudah 2 tahun menjadi driver mengatakan mereka menuntut agar manajemen Gojek segera memberantas order fiktif.
 
Karena sangat meresahkan para driver yang bekerja secara jujur untuk mencari nafkah.
 
"Sudah sekitar seminggu tarif turun dan order fiktif sudah lima bulan terakhir berlangsung," kata Rendy.
 
"Tidak ada solusi sama sekali selama tiga bulan terakhir dari pihak Gojek, untuk menyelesaikan permasalahan ini," tambahnya.
 
Rendy menjelaskan bahwa pihak manajemen hanya beralasan server yang bekerja dan tidak bisa diatasi, sehingga order fiktif tak bisa dibendung dan terkait turunnya tarif minimum, sampai saat ini manajemen belum ada memberikan jawaban sama sekali.
 
"Jujur kita kecewa banget, dulu perhari saya bisa dapat Rp 150 ribu, tapi semenjak tarif minimum turun, sekarang perhari hanya bisa dapat Rp 50 ribu rupiah," ungkap Rendy.
 
"Pokoknya kita berharap tarif minimum dikembalikan seperti semula dan manejemen Gojek segera memperketat aplikasi customer agar order fiktif tidak banyak terjadi yang dapat merugikan banyak pengemudi driver," pungkas Rendy. (*)
Medan (POLMAS) - Motif kasus pembunuhan Fitri Suryati pelan-pelan mulai terkuak. Pelaku pembunuhan, Yuda mengaku menaruh dendam terhadap Fitri Suryati hingga tega membunuhnya.
 
Yuda dendam terhadap Fitri karena soal asmara, Fitri diduga menjadi penyebab putusnya dirinya dengan sang pacar yang tak lain teman korban, Fitri Suryati. Cinta Yuda pun kandas, putus dari sang pacar yang dicintainya membuat Yuda patah hati dan sakit hati.
 
Pasca putus dengan sang kekasih, Yuda mencoba bangkit dengan pulang ke kampung halamannya di Medan. Sempat pulang ke Medan, Yuda kembali merantau ke Batam berniat untuk mengadu nasib.
 
Namun suatu ketika, sekitar satu bulan lalu saat hendak membeli gas, Yuda kaget ketika melihat sosok pedagang gas ternyata adalah Fitri.
 
Seperti membuka luka lama, Fitri adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kandasnya cinta Yuda dengan kekasih pujaan hatinya.
 
Luka lima tahun lalu kembali terbuka, dendamnya kembali membara, bahka ia merencanakan pembunuhan.
 
Hanya Saja Yuda menunggu waktu yang tepat untuk bisa menghabisi Fitri. Dan pada Akhirnya, Senin (12/2/2019) Yuda menemukan waktu yang tepat untuk membunuh.
 
Memang Yuda sudah berniat hendak menghabisi Fitri. Pasalnya, Ia sudah membawa sebilah Pisau dari rumahnya.
 
Ia mengintai keadaan rumah Fitri Kosong. Padahal siang itu, Yuda sempat menawar gas kepada Ameng ayah Fitri.
 
Saat Ameng pergi mengantar Gas, Kemudian Yuda masuk ke rumah dan menemui Fitri.
 
Awalnya Fitri tidak mengingat siapa Yuda.
 
"Dia awalnya tidak ingat sama saya, sampai saya cekik dia sampai dia pingsan," sebut Yuda.
 
Saat Fitri Pingsan, Yuda kemudian mengemasi barang-barang milik korban seperti Laptop dan HP korban.
 
Saat mengemasi barang itulah, tiba-tiba Fitri bangun dari pingsannya dan mencoba melawan Yuda.
 
"Dia bangun, kemudian saya tikam sama pisau yang saya bawa. Saya lupa berapa kali menikam lehernya, yang jelas ada beberapa kali," terang Yuda.
 
Usai menikam dan memastikan Fitri meninggal, Yuda kemudian pergi dari rumah tersebut dan merusak CCTV.
 
Ia mengaku membakar barang bukti baju yang ia kenakan saat membunuh Fitri.
 
Sementara Pisau yang ia gunakan untuk membunuh Fitri dia buang ke Sei Ladi.
 
"Pisaunya saya buang ke Sei Ladi," tegasnya. 
 
Ditangkap di Tempat Kos
 
Polisi akhirnya menangkap pelaku pembunuhan Fitri Yu alias Fitri Suryanti (25) warga Bengkong Laut yang ditemukan bersimbah darah di rumahnya, Senin (11/2/2019).
 
Setelah pelaku ditangkap, beredar video pengakuan YL (24), tersangka pembunuhan Fitri melalui media sosial.
 
Dalam video itu, YL mengaku tega membunuh Fitri karena dipicu dendam lama.
 
YL juga mengaku sudah merencanakan pembunuhan itu sejak 5 tahun silam.
 
Tersangka sendiri ditangkap beberapa jam setelah kejadian.
 
Kasat Reskrim Polresta Barelang AKP Andri Kurniawan mengatakan pelaku berinisial YL (24) dibekuk polisi di tempat kosnya di Bengkong Permai.
 
Penangkapan berlangsung di kawasan Bengkong Permai sekitar Pukul 23.00 WIB. Saat ditangkap, pelaku sedang bersembunyi di sana.
 
Kasat Reskrim Polresta Barelang AKP Andri Kurniawan mengatakan, pelaku pembunuhan berinisial YL (21).
 
"Alhamdulilah, pelakunya sudah kita amankan menjelang dinihari tadi," terang Andri saat dikonfiirmasi, Selasa pagi.
 
Sejauh ini menurut Andri, polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku.
 
Apa motif dibalik ini semua menurut Andri masih dalam proses pemeriksaan.
 
"Sabar dulu, yang jelas saat ini kita sudah amankan pelaku. Kita masih lakukan pemeriksaan," lanjutnya.
 
Kasat Reskrim mengatakan, dalam proses penangkapan ini polisi terpaksa melepaskan tembakan karena pelaku mencoba melawan petugas kepolisian dan berusaha melarikan diri.
 
"Memang terpaksa kita tembak karena memcoba melawan dan melarikan diri," sebut Andri kepada TRIBUNBATAM.id, Selasa pagi.
 
Sejauh ini Polisi Masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku di Polresta Barelang.
 
Pelaku pembunuhan ditangkap Selasa (12/2/2019) (Ist)Penangkapan yang dipimpin langsung Kasat Reskrim Polresta Barelang ini pun berkat kerjasama antara Subdid III Polda Kepri dan Satreskrim Polresra Barelang.
 
Untuk diketahui, yang menjadi korban dalam pembunuhan ini bernama Fitri Suryati (25) dengan beberapa luka tikam dibagian lehernya.
 
Penangkapan ini merupakan hasil kerja keras oleh tim gabungan Subdit III Polda Kepri dan Tim Macan Satreskrim Polresta Barelang.
 
Andri yang memimpin langsung penangkapan tersebut mengaku bangga dengan anggotanya yang tidak kenal lelah dalam bekerja.
 
Buah dari keseriusan mereka, tak heran, kurang dari 10 jam, pelaku dibekuk oleh pihak kepolisian.
 
Tunangan Korban Pembunuhan Fitri Suryati Menangis
 
Kemarin, sampai pukul 18.32 WIB malam, jenazah korban pembunuhan bernama Fitri Suryati (24) masih berada di RS Bhayangkara Polda Kepri untuk jalani autopsi.
 
Pantauan wartawan keluarga korban yang terdiri dari kakak korban dan tunangan korban masih menungu di ruangan intalansi forensik rumah sakit.
 
Tunangan korban bernama Anton terdengar sesekali menangis saat sedang menelpon, sambil berbicara dengan bahasa Tionghoa.
 
Luka yang amat dalam jelas saja dirasakan Anton yang kabarnya akan melangsungkan pernikahan pada tahun ini.
 
Sejauh ini, Tribunbatam.id, masih belum bisa mewancarai tunangan dan kerabat korban. Sebab masih dalam keadaan syok.
 
"Nanti dulu saya gak bisa berkata kata, saya masih shok," sebutnya sambil kembali masuk kedalam ruang intalansi forensik.
 
Sampai sejauh ini, proses otopsi masih dilakukan.
 
Diikat di Kamar
 
Fitri ditemukan tewas dengan luka di rumahnya, Bengkong Laut Blok F, Batam, Senin (11/2/2019) siang ini. 
 
Informasi yang dihimpun, korban juga diikat di kamar .
 
Seorang tetangga korban mengatakan kalau korban ditemukan dalam kondisi telungkup dan diikat tangannya.
 
Kerabat korban yang masih memakai seragam SMP terus menangis. 
 
Informasi yang di himpun Tribunbatam.id di lapangan, saat ditemukan oleh polisi, kondisi korban sudah bersimbah darah. Tanganya diikat.
 
"Tangannya di ikat dan kondisinya bersimbah darah," ujar salah satu kerabat korban.
 
Namun sejauh ini, petugas kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
 
Polisi melarang masyarakat masuk kedalam, namun terlihat masyarakat memantau dari luar pagar.
 
Tak Ada Sahutan Saat Ada Pembeli Gas
 
Kejadian ini awalnya diketahui oleh Robert salah seorang warga yang hendak membeli gas.
 
Kebetulan, korban yang tewas ini memiliki pangkalan gas 3 kg.
 
Kemudian saat ia panggil-panggil tidak ada sautan. Namun ia mengatakan kalau suara TV Hidup.
 
"Saya cuma dengar suara TV dari luar rumah, saya gak masuk karena tidak ada yang keluar saat saya panggil," sebutnya.
 
Karena tidak ada tanggapan dari dalam rumah, kemudian Robert pulang dan beritahu kepada ibunya untuk menelepon korban.
 
"Ibu saya nelepone juga nggak diangkat. Biasanya memang begitu, kalau mau beli gas telepone dulu," sebutnya.
 
Selang beberapa waktu kemudian, ternyata diketahui kalau korban sudah meninggal dunia. Mendengarkan informasi itu, rumah korban kemudian penuh oleh warga sekitar.
 
Luka Sayatan
 
Fitri Suryati ditemukan di kamar dalam kondisi telungkup di depan pintu kamar. 
 
Tangannya diikat.  Selain itu, darah segar juga berceceran keluar dari leher korban.  
 
Informasi sementara, korban meninggal karena mengalami beberapa tusukan di bagian leher dan membuat korban kehilangan banyak darah.
 
Diberitakan sebelumnya, Pemilik Pangkalan Gas LPG 3 Kg tewas bersimbah darah di depan pintu kamar
 
Sejauh ini, pihak kepolisian masih melakukan olah TKP dilokasi kejadian. Sementara itu, beberapa kerabat korban menunggu di luar rumah sembari polisi melakukan pemeriksaan di dalam. (*)
 
 
Medan (POLMAS) - Tim pegasus Polsek Sunggal berhasil mengungkap sindikat pembobol rumah kos-kosan, di Jalan Bunga Cempaka Medan. 
 
Satu di antaranya, Desmon Syahputra Ginting (33), warga Jalan Pokok Mangga, Medan Selayang, terpaksa diberi tindakan tegas karena melawan saat ditangkap. Desmon bersama tiga rekannya, Sofian Sinurat (28), warga Jalan Pokok Mangga, Edi Yanto Sebayang (29), warga Jalan Jamin Ginting, Gang Kolam Pancing dan Rizky Ardiansyah alias Riski (18), warga Jalan Bunga Cempaka Pasar III, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, diboyong ke Mapolsek guna proses lebih lanjut. 
 
Kapolsek Sunggal, Kompol Yasir Ahmadi pada konferensi pers, Senin (11/2/2019) malam mengatakan, bahwa awalnya polisi mengamankan tersangka Sofian dan Riski di tempat persembunyiannya di Jalan Darma Bakti, Kecamatan Medan Selayang, Jumat (8/2/2019) malam.
 
“Tersangka Sofian dan Riski merupakan pelaku pencurian sepedamotor di rumah kos Jalan Bunga Cempaka, Jumat (9/11/2018) lalu. Saat itu pelaku menjual sepedamotor curiannya pada Pian (DPO) di kawasan Asrama Haji seharga Rp4 juta,” beber Kompol Yasir.
 
Dari penangkapan keduanya, polisi kemudian melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan Desmon dan Edi di Jl Bunga Pancur IX, Kecamatan Medan Tuntungan.
 
“Tersangka Desmon merupakan ketua dari sindikat pembobol rumah kos ini. Lantaran melawan, tersangka juga terpaksa kita beri tindakan tegas. Tersangka juga pelaku pembobolan rumah kos di Jalan Taqwa, Kecamatan Medan Sunggal, Minggu (20/1/2019) kemarin,” ungkap Kompol Yasir.
 
Lanjut dikatakan Kompol Yasir, dari rumah kos tersebut, Desmon berhasil mencuri 1 unit ponsel dan 1 unit sepedamotor yang dijual pada 
Didit melalui Pian di kawasan Asrama Haji. 
 
“Dalam aksinya para tersangka kerap berganti pasangan. Tersangka kita jerat Pasal 363 KUHPidana dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara,” pungkas mantan Kapolsek Patumbak ini. (Red)
 
 
Page 1 of 2
© 2018 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved

Designed by : Invasindo