Jeritan Warga Desa Batu Bara Dibalik Tugu dan Taman Lampu Hias...

By Amin December 10, 2021 775

BATU BARA (Polmas)

Happy Birthday Batu Bara, 08 Desember 2021, Kabupaten Batubara kini telah beranjak remaja, berusia 15 tahun setelah berpisah dari Kabupaten Asahan, tentulah hasil perjuangan oleh sejumlah tokoh Pemekaran baik itu pemuda maupun tokoh masyarakat yang tergabung dalam wadah GEMKARA.

Dan sudah barang tentu niat dan tujuan para pemuda dan para tokoh masyarakat berpisah dari Asahan adalah agar terciptanya keadilan terutama keadilan dalam hal infrastruktur, utamanya adalah masyarakat yang berada di wilayah pesisir pantai yg memang paling buruk dalam hal akses jalannya

Lima belas tahun sudah berpisah, Namun sangat di sayangkan apabila dilihat dari perlintasan Jalan Utama di Desa Bagan Baru dan desa kapal merah, masyarakatnya belum merasakan infrastruktur jalan yang layak untuk dilalui sejak Kabupaten Batu Bara di mekarkan, hingga pemekaran Kecamatan Tanjung Tiram menjadi Kecamatan Nibung Hangus.

Padahal hasil pertanian dari kedua desa tersebut cukup banyak dan tentulah sangat berperan besar dalam hal perputaran ekonomi di kabupaten Batu Bara umumnya dan kecamatan Nibung Hangus khususnya, antara lain dari hasil pertanian warga adalah kelapa sawit, kelapa makan, jagung, pisang dll.

Sungguh satu pemandangan yg sangat kontras antara jalan utama desa Bagan Baru dan Kapal Merah apabila di bandingkan dengan pembangunan tugu dan taman.

Dilihat dari penganggaran yg di ambil dari Anggara Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2021 Untuk pembangunan Tugu, Taman, Lampu Hias, Mebel dan Kursi serta jasa konsultan pengawas dan perencanaan yg ada di BatuBara, dari hasil kajian dan pemeriksaan di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dan Rencana Umum Pengadaan (RUP), awak media Polmas Poldasu menemukan penganggaran sebesar -+ 5.570.726.750 miliar.

Dari pantauan wartawan Polmas poldasu Sabtu (04/12/2021) di sepanjang jalan utama kedua desa Bagan Baru dan Kapal Merah jauh dari kata layak, bahkan di beberapa titik roda dua pun tak sanggup apalagi roda empat, kalaupun roda enam (colt disel) dapat melewati, itupun dengan perjuangan yg lumayan keras di sebabkan oleh jalan berlobang dan berlumpur di tambah dengan genangan air akibat curah hujan yg tinggi dan membuat jalan semakin licin

Sebagai bentuk sindiran ke pihak-pihak terkait masyarakat bercocok tanam di atas jalan yg hancur tersebut dengan menanam pohon pisang, tebu dll bahkan ada lebih parah lagi ,yakni dengan mengibarkan bendera putih dan membuat kuburan lengkap dengan menabur bunga di badan jalan.

Dari warga yg tak berkenan di sebut namanya mengatakan kepada pihak wartawan Polmas poldasu hal kuburan di tengah jalan yg hancur tersebut, beliau mengatakan "kuburan ini bang sebagai tanda matinya keadilan dan tanggungjawab serta kepedulian pihak pemerintah kepada desa kami"

Lalu bagaimana dengan anggota dewan yg dulu meminta suara kalian "maaf bang, kami pun sudah tak ingat lagi dengan mereka,tapi suatu saat nanti mereka akan datang lagi nya itu bang ke sini" polos sambil menghisap rokok yg kurang terkenal.

Dari semua hasil bumi dari masyarakat, perlu diangkut keluar. Namun dengan kondisi jalanan yang susah dilalui mengakibatkan sulitnya pengiriman hasil bumi sehingga harga sangat berpengaruh pada harga jual ke penampung menjadi lebih murah.

Saat awak media mengkonfirmasi kepada Camat Kecamatan Nibung Hangus, tentang protes warga desa bagan baru Wandi memaklumi kritik warganya terhadap kondisi jalan di tempat mereka.

"Itu kan haknya mereka, cuma kita kan juga sudah berusaha melalui anggota dewan kita dan tinggal menunggu proses saja," kata Wandi.

Wandi mengatakan jalan yang disoal warga tersebut sebenarnya sudah mendapatkan perbaikan berupa perawatan. Hanya, kondisi permukaan tanahnya lembek sehingga membuat jalan tersebut cepat rusak dan rawan berlubang.

"Kalau di situ (jalan rusak) memang agak panjang juga sampai 3 atau 4 kilometer," terangnya. Dia juga mengharapkan masyarakat bisa bersabar menunggu perbaikan jalan.

"Warga sabar saja lah, semua itu kan ada proses," kata dia.

Dan saat kepala desa kapal merah pindawaty di hubungi via telepon selular beliau mengatakan

"sebagai kepala desa saya tidak punya kewenangan khusus dengan jalan tersebut,karena jalan tersebut adalah jalan pemerintah daerah namun saya sangat berharap dan memohon agar pihak-pihak terkait lebih memperhatikan akses jalan yg menuju desa kami yg semakin hari semakin sulit di lalui, di tambah lagi curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini" penuh harap

Dengan kondisi jalan yang sedemikian parahnya, sejumlah masyarakat Desa Bagan Baru Dan Kapal Merah, pada HUT Batubara ke-15, berharap agar Pemerintah tidak tutup mata akan kondisi jalan yang rusak, sehingga berakibat turunnya perekonomian masyarakat.

Menurut Amin yakni salah satu wartawan Polmas poldasu yg sekaligus sebagai ketua suatu perkumpulan pemantau keuangan mengatakan,

"sebenarnya kalau pemerintah kabupaten BatuBara mau dan berniat membolo jalan di dua desa tersebut tentulah sangat bisa,kenapa tidak?membuat tugu dan taman beserta lampu hiasnya dengan anggaran 5 miliar lebih saja bisa apatah lagi membolo jalan yg nota Bene untuk hajat hidup orang banyak."

Bagaimana dengan anggota dewan yg terhormat? Amin pun kemudian menjawab

"Tentulah lebih mudah lagi,semudah kemarin mereka melakukan rapat finalisasi anggaran di hotel berbintang Medan."

kalau di lihat dari tugas legislatif adalah Membentuk peraturan daerah bersama kepala daerah. Membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang diajukan oleh kepala daerah. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan APBD.
"Mudah bukan"? sambungnya sambil tersenyum.

Last modified on Friday, 10 December 2021 10:59
© 2021 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved