Humas RSUD Pirngadi Medan Hak Jawab Dugaan Malpraktek Nadya Syafitri

By March 19, 2019 11
Medan (POLMAS) - Dugaan malpraktek yang dilakukan tim medis RSUD Pirngadi Medan kepada Nadya Syafitri dijawab Humas Edison Peranginangin dengan jawaban, bahwa pengemudi ojek online tersebut tak kembali berobat seusai mendapatkan perawatan pertama ke Pirngadi.
 
Hal tersebut ia ungkapkan setelah mengonfirmasi dokter yang menangani Nadya beberapa waktu lalu.
 
Edison membenarkan, Tim medis dari pihaknya mengakui bahwa hasil Rontgen tulang tangan Nadya Syafitri tidak patah meski terlibat truk.
 
"Ya memang hasilnya tidak patah, maka hanya dilakukan tindakan pembersihan terhadap luka ditangan pasien dan dilakukan tindakan 'Back Slab' untuk mengurangi rasa nyeri dan pergerakan tangan yang berlebihan. Selain itu juga tidak ditemukan jaringan yang rusak, artinya jaringan pada tangan pasien masih berfungsi dengan baik", ucap Humas RSUD Pirngadi Medan, Edison Peranginangin di ruang kerjanya.
 
Ditanya soal tindakan 'Back Slab' yang dilakukan tim dokter adalah hal yang salah untuk pasien yang tidak mengalami patah tulang, Edison pun membantahnya.
 
"Kalau dokter yang memeriksanya terakhir bilang pasien yang tulang tangannya tidak patah tak perlu di Back Slab, tanyakan saja ke dokter itu. Dokter di sini mungkin punya penilaian sendiri kenapa tangan si Nadya yang tidak patah itu harus dirawat dengan cara itu", kata Edison.
 
Menurut Edison, RSUD Pirngadi tak bisa disalahkan. Ia justru menitik beratkan kenapa Nadya sudah diminta datang berobat kembali, justru tidak datang.
 
"Dia (Nadya Syafitri) hanya datang berobat kesini sebanyak dua kali, pertama tanggal 25 (Januari) dan tanggal 29 nya. Setelah itu dianjurkan datang lagi untuk kontrol ulang tapi dia tak kunjung datang," ungkap Edison.
 
Nadya Syafitri (19) mengalami kecelakaan pada 22 Januari 2019 lalu saat mengantarkan orderan ke jalan Cemara Medan. Saat berupaya menghindari batu, Nadya terjatuh dari sepeda motornya. Nahas saat itu sebuah truk pengangkut pasir melaju dan melindas tangannya.
 
Kemudian, Nadya pun dibawa ke klinik terdekat. Namun melihat kondisi tangan kananya yang parah karena terlindas truk, pihak klinik kemudian menganjurkannya untuk berobat ke RSUD Pirngadi Medan.
 
Di RSUD Pirngadi Medan, tangan Nadya dirontgen. Hasil rontgen menyatakan bahwa kondisi tulang tangan kanannya tidak patah. Namun para tim medis yang berada di UGD Rumah Sakit Pirngadi malah memperlakukan tangannya seperti patah. Tangan Nadya dibalut dengan perban lalu di 'Back Slab' dengan papan.
 
Beberapa hari setelahnya, Nadya kembali lagi ke Rumah Sakit Pirngadi Medan untuk melakukan check up dan sempat mengeluhkan kalau tangannya menjadi sangat gatal dan juga merasakan sakit yang sangat luar biasa. Setelah kontrol hari kedua tersebut, ia mendapati kondisi tangannya bukan bertambah baik tetapi semakin parah malah melepuh.
 
Nadya berpindah rumah sakit. Ia memeriksakan tangannya ke rumah sakit USU. Namun ia kaget mengetahui dokter menyarankan agar tangan Nadya untuk segera diamputasi.
 
Nadya pun kemudian berupaya mencari solusi terbaik agar tangannya tak harus diamputasi. Ia berobat ke RS Putri Hijau. Namun, dokter dirumah sakit Putri Hijau pun menyarankan agar tangannya dilakukan amputasi. Tak punya pilihan, Nadya pun harus merelakan kehilangan tangannya. (Rel)
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved