Polda Sumut Bongkar Penipuan Bos Travel Umrah PT Green Shaavire Holidays, Jemaah Dirugikan Rp2,8 Miliar

By March 01, 2019 32
Medan (POLMAS) Polda Sumut berhasil mengamankan Bos PT Green Shaavire Holidays, Muhammad Azmi yang ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan atau penggelapan perjalanan umrah dengan total kerugian sekitar Rp 2,8 miliar.
 
Selain tuduhan kerugian, tersangka juga diduga melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menggunakan uang setoran calon jemaah.
 
Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sumut Komisaris Besar Andi Rian Djajadi mengatakan ada lebih seratus jemaah yang dirugikan.
 
Mereka sudah bayar, tetapi pada hari H keberangkatan pesawat yang dijanjikan tidak ada.
 
"Kasus ini terungkap berkat adanya dua laporan ke polisi. Pelapor pertama yakni Abdullah, Direktur PT Al-falah Tour. Pelapor kedua adalah Idrus Marpaung, Direktur PT Thoriq Haramain," kata Andi Rian di Polda Sumut, Kamis (28/2/2019).
 
"Pelapor pertama mengalami kerugian sekitar 591 juta rupiah sedangkan pelapor kedua rugi sekitar 343 juta," ungkapnya.
 
Masih kata Andi Rian, calon jemaah meminta pengurusan keberangkatan umroh melalui dua PT yang sekarang menjadi korban.
 
Untuk PT Al-falah Tour, ada 53 calon jemaah tetapi mereka tidak melapor karena kasus ini ditangani langsung perusahaan. Hal yang sama, juga dengan 50 calon jemaah dari PT Thoriq Haramain.
 
"Sebenarnya masih ada korban lain hanya belum melapor. Tak perlu saya sebutkan nama perusahaannya. Kerugiannya lebih besar yaitu sekitar Rp 1,8 miliar," beber Andi Rian.
 
Andi Rian menjelaskan bahwa modus penipuan ini, tersangka menyediakan perjalanan tiket penerbangan rute Medan-Colombo-Jeddah. 
 
PT Green Shaavire Holidays menawarkan jasa perjalanan seperti rute itu melalui perusahaan-perusahaan yang menjadi langganan.
 
"Sayangnya, pada saat mau berangkat, rupanya tidak ada pesawatnya. Sehingga PT yang menjaminkan tadi, mereka sendiri yang mengupayakan untuk mencari penerbangan supaya calon jemaah bisa umroh," urai Andi Rian.
 
Lebih lanjut, kejadian ini berlangsung di Desember 2018. Mirisnya, tersangka tidak bertanggung jawab atas persoalan ini.
 
"Tersangka berdalih perusahaan mengalami kerugian, sehingga gagal memberangkatkan calon jemaah," ujarnya.
 
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka bakal dijerat tindak pidana penipuan/penggelapan serta undang-undang pencucian uang.
 
"Tersangka terancam hukuman 5 tahun atas tindak penipuan. Kalau untuk tindak pidana pencucian uang, hukuman yang diterima tersangka bisa lebih berat lagi," jelas Andi Rian. (Red)
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved