Cekcok dari Kafe Berlanjut, Mulyadi Tewas Ditikam di Depan Rumah, Keluarga Sempat Tolak Otopsi

By March 11, 2019 16
Percut Sei Tuan (POLMAS) - Isak tangis keluarga Mulyadi sejak Sabtu (9/3/2019) subuh serta ramainya para pelayat yang datang ke rumah di Jalan Bersama, Lahan Garapan, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, akhirnya sampai kepada pihak kepolisian. 
 
Personel Reskrim Polsek Percut Sei Tuan mendatangi rumah duka, saat pihak keluarga sudah selesai memandikan jenazah Mulyadi untuk selanjutnya dishalatkan sebelum dikebumikan. 
 
Polisi datang dengan tujuan membawa jasad Mulyadi agar menjalani visum dan otopsi untuk melengkapi berkas penyelidikan. Namun, tindakan kepolisian sempat ditolak pihak keluarga. 
 
“Saya kan abangnya. Ini kan jenazah sudah kayak gini, sudah dikafani dan dimandikan dan biarlah adik saya tenang. Kami gak mau nyusahin dia lagi. Dan kami sudah sepakat mau langsung kami kuburkan,” ujar Rizal Buyung (29), abang kandung Mulyadi di rumah duka. 
 
Rizal juga mengaku tidak begitu mengetahui secara jelas penyebab kematian adiknya yang masih melajang itu, karena memang tak di rumah pada saat kejadian. 
 
Meski begitu, dia berulangkali mengaku ikhlas atas kematian anak ke-5 dari 9 bersaudara tersebut. Begitu juga dengan Sari (35) dan Maya (33), kakak kandung Mulyadi. Mereka merasa tak perlu memperlambat proses pemakaman lantaran jenazah harus diotopsi. 
 
Terlebih, karena memikirkan berapa biaya rumah sakit yang harus ditanggung. 
 
“Kalau polisi mau datang dan menyelidiki gak apa-apa, tapi jangan dibawa jasad anak kami ini. Kami takut tubuh anak kami sebelah dan hilang entah kayak mana,” dalihnya. 
 
Mendengar hal itu, personel Polsek Percut Sei Tuan yang dipimpin Kanit Reskrim Iptu MK Daulay mengaku akan tetap membawa jenazah, agar mengetahui motif pembunuhan dan menangkap pelaku sebenarnya. Keranda yang sudah disiapkan untuk membawa jenazah Mulyadi ke pemakaman. 
 
“Saya tanggungjawab semuanya, kalian gak keluar uang apapun. Jangan sampai nanti udah dikebumikan dibongkar lagi. Kalian bisa keluar biaya sampai Rp30 juta. Saya Kanit Res-nya dan negara yang gak terima kalau kalian tetap gak terima ini dilaporkan dan diotopsi,” tegas Daulay di hadapan keluarga Mulyadi dan para pelayat. 
 
Begitu pun, saudara dan keluarga Mulyadi masih terus bersikukuh, hingga setelah jenazah selesai dishalatkan dan diumumkan bilal mayit untuk dikebumikan. Polisi kembali mendesak dan setelah dilakukan musyawarah, akhirnya pihak keluarga setuju jenazah Mulyadi dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk dilakukan otopsi. 
 
Ketika jenazah dibawa dengan mobil tim Inafis Polrestabes Medan, warga dan tetangga serta pelayat masih ramai di lokasi. Beberapa tetangga bahkan menyayangkan kejadian yang membuat mereka sangat takut. Seorang saksi mata merasa ketakutan karena kejadian itu memang diketahuinya mulai dari ribut hingga tetangga sebelah rumahnya itu dinyatakan meninggal. 
 
“Yang saya tau, dia ke kafe itu dan ribut sama pengunjung kafe. Katanya sempat nendang bangku juga sehingga ribut. Setelah kafe tutup, para pelaku datang. Waktu itu dia sedang duduk di depan rumah. Pas ribut-ribut itu, kami keluar semua tetangga,” terangnya. 
 
Meski begitu, wanita itu mengaku tak tau persis siapa para pelakunya. Namun ia memastikan pelaku yang mengeroyok Mulyadi sangat ramai. 
 
“Pas kami keluar semua sempat dilerai. Para pelaku kebanyakan orang belakang situ juga. Korban masih di depan dan malah sempat bilang sama kami, ‘Udah, apalagi yang kalian lihat? Masuk-masuk!’ Habis itu kami masuk semua karena udah larut dan dia duduk di depan rumahnya sendirian,” bebernya. 
 
“Gak lama pelakunya datang lagi. Entah kayak mana dia langsung ditikam dan pelakunya kabur. Habis itu dia teriak-teriak minta tolong, tapi suaranya sudah gak kuat dan pintu rumahnya sudah tertutup, jadi dia lari ke rumah tetangga di sebelahnya baru heboh dia sudah berlumuran darah,” ungkap wanita itu mengakhiri. 
 
Pemuda Baik Tapi Sedikit Aneh
 
Pantauan di lokasi, suasana di sekitar masih hening. Beberapa warga saling cerita dengan nada pelan mengenai peristiwa itu dan menduga-duga para pelaku. Tak sedikit yang mengatakan bahwa Mulyadi sedikit bertingkah aneh, kadang disebut mirip orang kurang waras. 
 
“Dia itu sebenarnya baik orangnya. Sering negur, kadang dia sering dengerin musik pakai headset,” kata ibu-ibu di sekitar rumah duka. 
 
“Baik kok dia orangnya, tapi memang dia ada sedikit heng-hengnya. Ada lari-larinya otaknya juga. Kalau ditegur sama saya didengerin kok. Tapi memang kalau yang kenal dia pasti tau dia agak sedikit lain gitu,” ujar Putra (37), warga lain yang ditemui di sekitar lokasi. 
 
Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, Iptu MK Daulay saat dikonfirmasi mengatakan segera menyelidiki motif pembunuhan tersebut dan akan memburu pelakunya. Daulay juga menyarankan keluarga korban membuat laporan ke kantor polisi. 
 
“Kita amankan dari rumah korban hanya pakaian korban yang berlumuran darah. Jenazah korban dibawa ke RS Bahanyakara Medan,” pungkasnya. (Red)
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved