BPODT Akui Air Danau Toba Kawasan Haranggaol Sudah Sangat Tercemar

By March 23, 2019 22
Medan (POLMAS) - Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo membenarkan beberapa titik kawasan perairan Danau Toba sudah bangat tercemar yang diakibatkan oleh KJA.
 
Menurutnya, daerah Haranggaol merupakan tempat terbanyak perusahaan dan masyarakat memanfaatkan peraturan danau untuk menampung KJA ini.
 
"Haranggaol memang mengandung paling banyak kepadatan keramba jaring apung, dan ada di daftar paling tinggi. Otomatis kualitas air juga pastinya tercemar dan bau juga," kata Arie Prasetyo.
 
Ia juga menyampaikan, daerah tersebut juga sudah sangat tercemar apalagi udara sekitarnya beraroma tidak sedap. Untuk data, pihaknya sudah mendata daerah mana saja di danau itu KJA terbanyak.
 
"Kita sudah kita punya data kepadatan keramba paling banyak untuk di wilayah Danau Toba, di Haranggaol memang paling banyak," ujarnya.
 
Saat ditanya, apakah bisa memberikan data-data itu, dirinya mengaku tidak memegangnya karena sedang ada rapat di luar.
 
Di Haranggaol itu, kata Arie, sudah diminta untuk mengurangi produksi KJA sekitar 80 persen. Artinya masyarakat atau perusahaan hanya boleh memanfaatkan perairan sekitar 20 persen untuk memproduksi KJA.
 
"Jadi daerah yang sangat padat harus dikurangi sampai 80 persen, sisa 20 persen layak. Beberapa lokasi lain juga padat," katanya, namun tidak hanya di Haranggaol ada beberapa titik lagi di Danau Toba kepadatan KJA terlihat.
 
Saat ini, BPODT bersama dengan pemerintah daerah sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman, yang berisikan aturan untuk dapat mengembalikan kualitas air.
 
"Nota kesepahaman sudah ditandatangani untuk perbaikan kualitas lingkungan dan air di danau Toba. Kita bicara juga tentang persampahan di danau Toba," katanya.
 
Jadi, kata dia, pemerintah dan BPODT tengah melakukan penanganan upaya untuk melestarikan lingkungan di sana dengan cara pendataan kepada perusahaan dan masyarakat.
 
"Penanganan akan dilakukan pendekatan dengan cara komperhensif kepada masyarakat dan perusahaan," ujarnya.
 
Seperti contoh PT Aquafram Nusantara ada tiga lokasi yang dipakai perusahaan itu untuk KJA. Untuk satu lokasi saja, PT Aquafram Nusantara memiliki 80 KJA, dan itu sangat membahayakan kualitas dari air Danau Toba.
 
"Perlakuannya ada dua yaitu masyarakat dan perusahaan, PT Aquafram Nusantara ada tiga titik, satu titik itu 80 KJA. Data kita tidak melihat siapa pemiliknya, tetapi seberapa banyak. Jadi area mana yang paling buruk itu yang kita lihat," ucapnya.
 
BPODT dikatakannya, tidak melihat dari berapa banyak KJA yang dimiliki perusahaan atau masyarakat, akan tetapi melirik kepada seberapa besar dampak yang ditimbulkan.
 
Saat ini kata dia, tidak semua lokasi di danau itu tercemar, memang diakuinya untuk Haranggaol sangat buruk kualitas air. Akan tetapi ada beberapa titik di danau itu yang belum dapat diteliti oleh BPODT untuk kualitas airnya.
 
"Beberapa lokasi bisa dibilang sangat tercemarnya, seperti di Haranggaol, beberapa lokasi lain belum kita teliti ya. Ada berapa tempat masih baik kualitas airnya," ujarnya. (rel)
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved