Polisi : Sebelum Dibunuh, Dr Wahyu dan Siti Zulaeha Kencan di Mobil

By March 25, 2019 18
Sulsel (POLMAS) - Penyidik Polres Gowa dan Resmob Polda Sulsel terus mengembangkan kasus pembunuhan PNS yang ditemukan tewas terlilit safety belt mobil, karyawati UNM Makassar Siti Zulaeha Djafar  alias Ela(40) hingga Minggu (24/3/2019). 
 
Penyidik menggali keterangan dan bukti termasuk mencari iPhone X milik Siti Zulaeha.
 
Tersangka Dr Wahyu Jayadi membuang iPhone X milik Siti Zulaeha di got dekat kampus UNM Makassar Jl Pettarani, Makassar.
 
Meski rusak, barang bukti iPhone X ini diyakini mengungkap kebenaran-kebenaran lain. Pembunuhan karyawati UNM Siti Zulaeha Djafar (40), membuat banyak pihak terkejut.
 
Dr Wahyu Jayadi (44) terduga pelaku tunggal adalah satu kampung sekaligus rekan kerjanya di UNM Makassar).
 
Peristiwa pembunuhan Siti Zulaeha Djafar diduga terjadi pada Kamis (21/3/2019) malam.
 
Namun mayat korban baru ditemukan, Jumat (22/32019), dalam kondisi mulai membengkak.
 
Mayat korban ditemukan di dalam mobil yang terparkir di Jalan Poros Japing, depan gudang milik pengembang perumahan Bumi Zarindah, Dusun Japing, Desa Sunggumanai, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
 
Mobil tersebut adalah mobil jenis SUV merek Daihatsu Terios warna biru berplat nomor DD 1472 AM.
 
Mayat korban kali pertama ditemukan seorang pemuda bernama Rusdi (31) yang bekerja sebagai pengawas proyek bangunan, sekitar pukul 08:30 Wita (pada berita sebelumnya ditulis pukul 10:00 Wita).
 
Pada saat itu, Rusdi hendak membuka gudang.
 
Namun, di halaman gudang, dia menemukan ada mobil terparkir tanpa diketahui pemiliknya.
 
Dia lalu mengamati mobil tersebut dan ternyata kaca samping bagian kiri depan pecah.
 
Tak hanya itu, di jok kiri depan duduk seorang wanita yang tak lagi bernyawa, kepala diikat safety belt (sabuk pengaman di kursi).
 
Rusdi sekaligus warga Pekang Labbu, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, langsung melaporkan kejadian tersebut kepada warga dan aparat setempat.
 
Selang beberapa menit kemudian, polisi datang ke Tempat Kejadian Perkara ( TKP).
 
Ditemukan surat kendaraan dan identitas.
 
Wanita tersebut ternyata bernama Siti Zulaeha Djafar, warga kompleks perumahan Sabrina Regency, Jalan Manggarupi, Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, Gowa.
 
Mayat Siti Zulaeha Djafar selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara, Jalan Mappaoddang, Makassar, Sulawesi Selatan, untuk menjalani otopsi.
 
Dari hasil otopsi, diketahui jika Siti Zulaeha Djafar menghembuskan nafas terakhir sekitar 6 jam sebelum mayatnya ditemukan.
 
Di tubunnya terdapat sejumlah luka lebam.
 
Siti Zulaeha Djafar ternyata meninggal dibunuh.
 
Saat jenazah sedang diotopsi, polisi dari Resmob Ditreskrimsus Polda Sulsel bersama Satreskrim Polres Gowa melakukan prarekonstruksi.
 
Berdasarkan hasil prarekonstruksi, pelaku mengarah kepada seorang bernama Dr Wahyu Jayadi, tetangga Siti Zulaeha Djafar di kompleks perumahan Sabrina Regency.
 
Wahyu Jayadi adalah sosok yang terakhir bersama dengan Siti Zulaeha Djafar.
 
Tim Resmob Ditreskrimsus Polda Sulsel lalu menangkap Wahyu Jayadi di RS Bhayangkara, Jumat siang, sekitar pukul 14:05 Wita.
 
Sebelum ditangkap, Wahyu Jayadi pura-pura melayat korban dan menyampaikan empati kepada keluarga korban.
 
Selain itu, setalah membunuh Siti Zulaeha Djafar, Wahyu Jayadi sekaligus Kepala Unit Pelaksana Teknis ( UPT) Kuliah Kerja Nyata ( KKN) pada Universitas Negeri Makassar ( UNM), berupaya menghilangkan jejak setidaknya melalui 3 cara.
 
Pertama, memecahkan kaca mobil dikendarai korban untuk memunculkan kesan jika Siti Zulaeha Djafar merupakan korban perampokan.
 
Kaca mobil awalnya ditinju, namun tak berhasil sehingga pelaku memecahkannya menggunakan batu.
 
Wahyu Jayadi membunuh tetangganya dengan cara mencekik leher dan meninju bagian wajah.
 
Guna menghilangkan bekas cekikan, dia mutupi leher korban menggunakan safety belt.
 
Saat dicekik, korban melakukan perlawanan dengan cara mencakar pelaku.
 
Setidaknya itu terlihat dari bekas cakaran di lengan pelaku.
 
Tim forensik mencocokkan luka cakar di lengan Dr Wahyu Jayadi dengan DNA di kuku korban.
 
Identik!
 
Kedua, menghancurkan smartphone iPhone X milik korban untuk menghilangkan jejak komunikasi.
 
Namun, polisi berhasil mendapatkan rekaman hasil komunikasi antara korban dengan pelaku.
 
Ketiga, menutupi bekas cekikan menggunakan seat belt.
 
Segala upaya pelaku untuk menghilangkan jejak, tak membuat polisi gagal melacak keberadaannya.
 
Lebih dari 10 jam setelah penangkapan, pelaku baru mengakui perbuatannya tersebut.
 
Sebelum pembunuhan, Siti Zulaeha Djafar dan Wahyu Jayadi sempat janjian untuk kencan saat pulang dari kantor atau tempat kerja.
 
Korban adalah staf Bagian Rumah Tangga pada Biro Administrasi Umum dan Keuangan ( BAUK) UNM.
 
Korban dan pelaku sama-sama berkantor di lantai II, Menara Phinsi UNM, Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Makassar.
 
Mereka janjian untuk bertemu di depan kantor PT Telkom Tbk, dekat Menara Phinisi.
 
Mereka kemudian bertemu sekitar pukul 17:00 Wita, Kamis (21/3/2019).
 
Di depan kantor PT Telkom Tbk, mobil mereka papasan, selanjutnya beriringan menuju ke kompleks pertokoan Permata Sari, Jalan Sultan Alauddin, depan kampus UIN Alauddin, Jalan Sultan Alauddin, Makassar.
 
Mereka ke kompleks pertokoan itu dengan tujuan menitip mobil jenis SUV mid-size merek Suzuki Escudo yang dikendarai Wahyu Jayadi.
 
Selanjutnya, mereka jalan bareng, dimana Wahyu Jayadi mengemudikan mobil Daihatsu Terios milik Siti Zulaeha Djafar.
 
Saat mobil mereka papasan, berdasarkan pengakuan pelaku, Siti Zulaeha Djafar sempat meminta kantong plastik kepada pelaku.
 
Kantong plastik itu digunakan korban untuk buang air kecil (pipis) di dalam mobil.
 
Korban juga tak pernah keluar dari mobil sejak papasan hingga mobilnya meninggalkan kompleks pertokoan Permata Sari.
 
Kantong plastik itu bersama lembaran tisu bau pesing diamankan polisi sebagai barang bukti.
 
Polisi dari Resmob juga mengamankan barang bukti lain sebuah berupa batu, sebuah kunci kontak mobil Daihatsu Terios, sebuah kerudung warna hijau, sebuah cincin.
 
Sebuah jam tangan, sebuah smartphone iPhone X milik korban, sebuah handphone merek Samsung milik pelaku, sebuah smartphone Xiaomi milik pelaku, selembar kemeja warna hijau dikenakan pelaku, selembar celana warna hitam dikenakan pelaku, uang tunai Rp 440 ribu.
 
Sampel darah korban, tisu bekas, dan pakaian korban.
 
Pada Malam Kejadian
 
Pada malam kejadian, saat pembunuhan terjadi, istri pelaku sempat menanti suaminya pulang hingga tengah malam.
 
Berdasarkan pengakuan istri Wahyu Jayadi sebagaimana keterangan diterima dari polisi, saban hari kerja, pelaku selalu pulang di rumah sebelum petang.
 
Namun, Kamis (21/3/2019), hingga pukul 22:00 Wita, pelaku belum pulang.
 
Sang istri baru melihat suaminya berada di rumah pada waktu subuh atau Jumat subuh.
 
Wahyu Jayadi memiliki 4 anak dan seorang istri.
 
Rumahnya berhadapan dengan rumah korban.
 
Rumah Wahyu Jayadi di blok E nomor 17, sedangkan rumah Siti Zulaeha Djafar di blok F nomor 8.
 
Rumah Siti Zulaeha Djafar dihuni dirinya, suaminya bernama Muh Sukri, dan ketiga anaknya.
 
Muh Sukri merupakan Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Ajatappareng pada Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan.
 
Sang suami sering keluar kota untuk urusan dinas.
 
Sosok ditangkap adalah Wahyu Jayadi, terduga pelaku pembunuhan.
 
Selain tetangga di kompleks perumahan, korban dan pelaku ternyata sekampung.
 
Mereka sama-sama perantau dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
 
Mereka juga satu almamater, UNM.
 
Siti Zulaeha Djafar adalah alumunus Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik pada UNM.
 
Wahyu Jayadi merupakan alumnus Fakultas Ilmu Keolahragaan pada UNM.
 
Dulu, di kampus, mereka adalah senior dan junior.
 
Namun pihak keluarga besar almarhumah Siti Zulaeha di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan membantah dugaan isu Siti Zulaeha meninggal dunia karena selingkuh dengan dosen Universitas Negeri Makassar, Wahyu Jayadi.
 
Keluarga besar Siti Zulaeha bernama Satria Ramli menyampaikan kepada TribunSinjai.com bahwa meninggalnya Siti Zulaeha bukan karena melakukan perselingkuhan.
 
"Padahal berdasarkan fakta pemeriksaan polisi diketahui bahwa motif pelaku melakukan pembunuhan murni karena masalah pekerjaan dan pribadi. Jadi bukan karena terlibat perselingkuhan, jadi jangan membangun opini, cukup lah Siti Zulaeha mati tersiksa karena ulah dosen UNM," kata Satria yang juga Ketua KNPI Kabupaten Sinjai, Minggu (24/3/2019).
 
Mereka kerabat Siti Zulaeha terus mempercayakan kepada aparat kepolisian untuk mengungkap motif secara keseluruhan aksi pembunuhan tersebut.
 
Dia berharap agar publik tidak berspekulasi atas tewasnya Siti Zulaeha. Dan dapat memberikan hukuman kepada pelaku
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved