Sah, Tarif Ojek Online Berlaku 1 Mei 2019 di Tiga Zona

By March 26, 2019 15
Medan (POLMAS) - Kementerian Perhubungan akhirnya telah menentukan besaran tarif ojek online.
 
Penetapan tarif ini sendiri dibagi menjadi tiga zona.
 
Sistem zonasi ini sendiri terdiri dari, zona I yang meliputi Sumatera, Jawa selain Jabodetabek dan Bali.
 
Zona II terdiri dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
 
Sedangkan Zona III terdiri dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
 
Untuk zona I, tarif batas bawahnya sebesar Rp 1.850 per kilometernya dan tarif batas atasnya Rp 2.300.
 
Untuk biaya jasa minimalnya Rp 7.000 sampai dengan Rp 10.000.
 
Biaya jasa minimal ini merupakan biaya yang dibayarkan penumpang untuk jarak tempuh maksimal 4 kilometer.
 
“Jadi untuk (tarif) batas bawah Rp 2.000 (per kilometernya). Untuk (tarif batas) atasnya Rp 2.500. Itu yang Jabodetabek (zona II),” ujar Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi di kantornya, Senin (25/3/2019).
 
Sementara tarif batas bawah zona III Rp 2.100 dan tarif batas atasnya Rp 2.600.
 
Adapun biaya jasa minimalnya Rp 7.000 sampai dengan Rp 10.000 Budi menambahkan, untuk di Jabodetabek biaya jasa minimalnya Rp 8.000 sampai dengan Rp 10.000.
 
“(Biaya jasa minimalnya) Rp 8.000 sampai 10.000, tergantung aplikator (yang) menentukan," kata Budi.
 
Besaran tarif ojek online ini akan mulai berlaku pada 1 Mei 2019.
 
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat (ojek online).
 
Dalam aturan tersebut, diatur masalah formula perhitungan jasa (tarif ojek online).
 
Aturan itu tertuang dalam Pasal 11 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019.
 
Formula penghitungan tarif terdiri dari biaya langsung dan tak langsung.
 
Biaya langsung terbagi dari biaya penyusutan kendaraan, bunga modal, pengemudi, asuransi, pajak kendaraan, BBM, ban, pemeliharaan dan perbaikan kendaraan, penyusutan telepon seluler, pulsa serta profit mitra. Adapun biaya tak langsung meliputi biaya penyewaan aplikasi.
 
Budi mengklaim besaran tarif yang hari ini ditetapkan sudah mempertimbangkan kepentingan pengemudi yang selama ini menaikkan tarif.
 
"Kalau dihitung dari tarif sebelumnya (tarif Jakarta) Rp 1.800 menjadi Rp 2.000 artinya naik belasan persen hampir 20 persen," kata Budi menjawab pertanyaan BBC News Indonesia.
 
Budi menyampaikan siap untuk terus berdialog dengan para pengemudi yang sebelumnya menuntut Rp 3000 per km.
 
Selain Kemenhub juga mempertimbangkan daya beli konsumen yang menurut riset kata Budi memiliki daya beli Rp 600- Rp 2.000 km.
 
Selanjutnya Kemenhub juga memastikan besaran tarif bisa tetap melindungi kelangsungan bisnis dua aplikator.
 
"Jangan sampai salah satunya mati," katanya. Para aplikator nantinya hanya diperkenankan mengambil 20 persen biaya tambahan dari angka bersih yang diterima pengemudi, ujarnya.
 
"Keputusan ini akan kami evaluasi setiap tiga bulan," lanjut Budi.
 
Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, para pengemudi memprotes taris ojol yang dianggap terlalu rendah dan menuntut angka minimal Rp 3,000/km atau Rp2.400/km tanpa potongan.
 
Selama ini, tarif yang diberlakukan oleh aplikator - misalnya Gojek dan Grab - sekitar Rp1,800/km di luar program promosi.
 
Respons Driver
 
Para pengemudi ojek online mengaku cukup puas dengan besaran tarif yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan.
 
Salah satunya disampaikan oleh Eko (41) yang sudah cukup lama jadi pengemudi ojek online.
 
"Kemarin dimintanya kan Rp 3.000 (per kilometer), ternyata enggak sampai ya, agak kecewa sih. Tapi itu sudah naik, jadi lumayan lah, kata Eko kepada Kompas.com di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat, Senin (25/3/2019).
 
Ia mengatakan, meski tarif baru berlaku pada 1 Mei 2019, dirinya cukup sabar untuk menantikan kenaikan tarif tersebut.
 
"Enggak apa-apa agak lama, yang penting naik saja," kata Eko.
 
Hal serupa juga disebutkan oleh pengemudi lain bernama Agung (27).
 
Meski tak begitu mengetahui tarif yang ditetapkan oleh perusahaan, pengemudi ojek online ini menilai keputusan pemerintah untuk mengatur tarif merupakan langkah yang bijak.
 
"Pas sih kalau benar hitungannya Rp 2.000 per kilometer," tutur Agung.
 
Sedangkan untuk tarif dasar yang ditetapkan pemerintah, Agung menilai tak begitu berbeda dengan yang ditetapkan oleh perusahaan ojek online.
 
Abdul Razak (35), pengemudi ojek online lainnya berharap tarif dasar yang ditetapkan bisa lebih baik sejalan dengan diberlakukannya ketetapan Kemenhub tersebut nanti.
 
"Karena kan sekarang tarif dasarnya sudah Rp 8.000 juga," ujar Razak.
 
Anggota Presidium Gabungan Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia Igun Wicaksono mengatakan, jasa ojek online akan tetap dicari karena karakteristiknya.
 
"Ojek online ini kan punya karakteristik point-to-point transportation, ini enggak ada model transportasi lain, enggak ada saingannya. Ini kelebihan ojek online," kata Igun saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/3/2019).
 
Igun menuturkan, karakteristik itu membuat penumpang cukup memesan ojek online dari titik keberangkatan dan langsung mencapai titik tujuan tanpa berpindah-pindah kendaraan.
 
Igun melanjutkan, saat ini sudah banyak warga yang bergantung pada ojek online sehingga perubahan tarif tidak akan begitu berpengaruh pada jumlah penumpang.
 
Kendati demikian, Igun tak menampik bila akan ada perubahan jumlah penumpang pada masa-masa awal tarif baru diterapkan.
 
"Kami akan evaluasi tiga bulan ke depan, yang akan kami evaluasi pendapatan kami, demand dari penumpang juga, walaupun kami tidak terlalu khawatir demand penumpang akan menurun," ujar Igun.
 
Berikut tarif ojek online berdasarkan zonasi:
 
Zonasi Satu (Jawa, Sumatra, Bali, tetapi minus Jabodetabek):
 
Tarif Batas Bawah : Rp 1.850/Km
 
Tarif Batas Atas : Rp 2.300/Km
 
Biaya Jasa Minimal : Rp 7.000-Rp 10.000/Km
 
Zonasi Dua (Jabodetabek):
 
Tarif Batas Bawah : Rp 2.000/Km
 
Tarif Batas Atas : Rp 2.500/Km
 
Biaya Jasa Minimal : Rp 8.000-Rp 10.000/Km
 
Zonasi Tiga (Sulaweso, Maluku, NTB):
 
Tarif Batas Bawah : Rp 2.100/Km
 
Tarif Batas Atas : Rp 2.600/Km
 
Biaya Jasa Minimal : Rp 7.000-Rp 10.000/Km
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved