Kapolda : Pendeta Melinda Zidemi Tidak Diperkosa Tapi Dicabuli

By April 01, 2019 5
Palembang (POLMAS) - Aparat gabungan dari Polres OKI, Polda Sumsel dan Polsek Air Sugihan menangkap dua pria Nang dan Han alias M dan H tersangka pembunuh calon pendeta Melinda Zidemi alias Melindawati Zidoni.
 
Dua tersangka yakni Hen alias Hendri dan Nang memiliki peran masing-masing saat membunuh calon pendeta Melinda Zidemi.
 
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap korban Melinda diotaki tersangka Nang.
 
Sedangkan Hen mengikuti ajakan dari Nang.
 
Awalnya kedua tersangka ini hanya ingin memperkosa korban Melinda.
 
Aksi yang telah mereka rencanakan berdasarkan ide dari Nang, langsung mengeksekusi saat korban melintas bersama Nita (11).
 
Sumber Tibunsumsel.com mengatakan, usai mengikat Nita menggunakan karet ban dalam motor, Hen melancarkan aksinya untuk memperkosa korban.
 
Meski dalam keadaan haid, Hendri tetap memperkosa korban. Sedangkan Nang, membatalkan niatnya untuk memperkosa korban lantaran mengetahui korban sedang haid.
 
Ketika Hen sedang melancarkan aksinya, ternyata korban meronta dan membuat tutup wajah Hendri terlepas.
 
Dari itulah, Hen memutuskan untuk mencekek leher korban Melindawati sampai tewas. Barulah, mereka buang korban di semak-semak usai tewas.
 
Sementara itu, dua sepeda motor dan dua buah balok kayu sebagai barang bukti dalam kasus pembunuhan calon pendeta muda cantik Melinda Zidemi saat ini telah berada di Mapolda Sumsel, Jumat (29/3/2019).
 
Sepeda motor pertama adalah jenis Honda Revo Hitam, diketahui merupakan kendaraan yang digunakan korban Melinda Zidemi sesaat sebelum akhirnya diperkosa dan dibunuh diarel perkebunan, Selasa (26/3/2019).
 
Kebun tersebut di Areal PT PSM Divisi 3 Blok F 19 Dusun Sungai Baung Desa Bukit Batu Kecamatan Air Sugihan Kabupaten OKI.
 
Satunya lagi adalah sepeda motor jenis Yamaha Vixion hitam dengan BG 2743 RA yang digunakan pelaku saat melakukan kejahatannya.
 
Tampak terlihat jelas kedua motor dalam keadaan dipenuhi lumpur tanah merah. Sementara dua balok kayu masing-masing dengan panjang sekitar 2 dan 3 meter, juga ikut diamankan.
 
Balok kayu tersebut digunakan pelaku untuk memblokir jalan yang tengah dilewati korban Melinda Zidemi bersama Nita (9) korban yang berhasil selamat sekaligus saksi kunci dari kejadian tersebut,
 
Sampai saat ini pihak kepolisian belum bersedia memberikan komentar terkait barang bukti tersebut.
 
Sebelumnya, dua pelaku pembunuh tersebut ditembak kakinya oleh polisi karena berusaha kabur.Nang dan Han kedua tersangka ini dibawa ke RS Bhayangkara Palembang untuk dirawat, Kamis (28/3/2019) malam.
 
Video saat keduanya dibawa ke RS Bhayangkara dan diintrogasi polisi dipublish akun instagram @palembang_bedesau.
 
Dari tayangan video itu terdengar seorang tersangka Han menangis meraung karena kesakitan sementara temannya Nang saat itu sedang diintrogasi.
 
"Tahan-tahan kata seorang pria pada tersangka yang saat itu menangis,".
 
"Untung kau masih hidup," kata pria itu lagi. Terdengar lagi tersangka menangis meraung.
 
Sementara itu, Nang memberikan keterangan yang plintat-plintut alias berubah-ubah. Semula bilang tak kenal Melinda lalu berubah kenal. Ia juga mengaku tak memerkosa.
 
"Sudah setengah bulan kenal dengan Melinda Zidemi," kata pemuda gondrong kurus yang badannya dipenuhi tato ini. Sebelumnya ia bilang tak kenal.
 
"Karena senang (suka) tadi," katanya saat menjawab pertanyaan kenapa mengadang dan membunuh korban.
 
Ia mengaku membunuh karena penutup wajahnya terbuka. Nang mengaku tak memerkosa korban. Pasalnya, Nang mengaku saat itu Melinda Zidemi sedang haid.
 
Keterangan Nang ini masih diselidiki lebih lanjut. Apalagi ditemukan sperma di tubuh korban. 
 
Kapolda Ungkap Fakta Sebenarnya
 
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnaen Adhinegara memimpin rilis kasus pembunuhan calon pendeta Melinda Zidemi, Jumat (29/3) pukul 15.00.
 
Dua tersangka pembunuh Nang dan Hen dihadirkan di hadapan wartawan. Keduanya duduk di kursi roda dengan kaki tertembak.
 
Kedua tersangka mengaku membunuh karena sakit hati karena sebelumnya pernah mengungkapkan perasaan tapi ditolak
 
Nang (20), salah satu tersangka pembunuhan calon pendeta MZ (24) di Kabupten OKI, Sumatera Selatan, mengaku memendam rasa cinta dengan korban sejak delapan bulan bekerja di perkebunan sawit.
 
Selama bekerja, ia selalu melihat korban keluar menuju pasar. Namun, satu pekan sebelum kejadian, pelaku sempat tersinggung dengan ucapan korban sehingga memicunya nekat untuk membunuh korban.
 
"Saya dikatain jelek. Saya memang suka, tapi takut ngomong," kata Nang yang terduduk di kursi roda di Mapolda Sumatera Selatan, Jumat (29/3/2019).
 
Ucapan korban ternyata membuat Nang dendam. Ia lalu mengajak tersangka Hendri (18) untuk menghadang korban saat melintas di lokasi kejadian.
 
Sebelum menghadang, mereka mencari kain sarung untuk menutupi wajah agar tak dikenali oleh korban. Selain itu, Nang juga menyiapkan ban dalam untuk mengikat tangan dan kaki korban.
 
Pada Senin (25/3/2019) sekitar pukul 18.00, kedua pelaku menyergap Melinda Zidemi dan seorang bocah berinisial NP yang bersama dengannya.
 
NP diikat lebih dulu oleh pelaku Hendri. Selanjutnya korban MZ dibekap dan hendak diperkosa oleh para pelaku.
 
Namun, Melinda ternyata datang bulan. Kedua pelaku melecehkan MZ dan kemudian mencekiknya hingga tewas.
 
"NP diikat, lalu dicekik, setelah itu baru Melinda. Waktu kami mau perkosa, korban lagi mens jadi hanya kami cabuli," ujarnya.
 
Pada kesempatan itu, Kapolda menegaskan bahwa korban, Melinda Zidemi tidak mengalami perkosaan. Kedua tersangka urung memerkosa karena saat itu korban sedang haid.
 
Selain itu penegasan ini juga sebagai konfirmasi informasi yang beredar saat ini yang menyatakan korban diperkosa.
 
"Melalui pemeriksaan otopsi ditemukan bahwa tidak ada persetubuhan. Tersangka memang melakukan pencabulan dengan memasukkan tangannya ke (maaf) alat vital korban," katanya.
 
"Setelah dicek ternyata bukan sperma. Korban ternyata hanya dicabuli oleh pelaku," tambah Zulkarnain saat menggelar pres rilis di Mapolda Sumsel.
 
Zulkarnain mengatakan, petugas mulanya melakukan pemeriksaan terhadap empat orang saksi dari kasus pembunuhan MZ pada Rabu (27/3/2019) kemarin.
 
Pemeriksaan tersebut mengerucut jika dua pelaku adalah Hendri dan Nang.
 
Namun, keduanya masih saja tak mengakui perbuatannya tersebut.
 
Setelah ada satu warga yang menyatakan jika kedua pelaku sempat terlihat mencari karet ban dalam motor, Nang dan Hendri pun tak bisa lagi mengelak.
 
"Karena terus berkilah, akhirnya kami kasih tindakan tegas. Pelaku ini juga sadis," kata Zulkarnain.
 
Pernyataan Pemimpin Umum GKII
 
Pimpinan Umum Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) Pusat, Pendeta Trisno Kurniadi ikut hadir di Polda Sumatera Selatan setelah dua pelaku pembunuhan calon pendeta berinisial MZ (24) berhasil ditangkap petugas.
 
Pendeta Trisno mengucapkan terima kasih kepada jajaran Polda Sumatera Selatan yang sudah menangkap kedua pelaku yakni Nang (20) dan Hendri (18).
 
Menurutnya, perbuatan Nang dan Hendri begitu keji dan sangat tidak manusiawi yang tega membunuh korban.
 
Namun, dari pihak GKII tetap memafkan perbuatan kedua pelaku.
 
"Secara manusiawi, tentu marah karena perbuatan ini sangat biadab. Tapi kami belajar memaafkan, tapi hukum tetap ditegakkan," kata Trisno, Jumat (29/3/2019). 
 
Ia melanjutkan, MZ telah bertugas selama enam bulan di Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII) Sungai Baung, Kabupaten OKI, dalam rangka ikatan dinas selama dua tahun.
 
Selama bertugas, korban tidak pernah mengeluh meskipun berada di daerah yang jauh dari kota.
 
"Korban memang dalam rangka ikatan dinas, diatur pihak kampus dan gereja. Surat tugasnya 2 tahun di sana. Korban dikenal sangat baik. Kami minta pelaku dituntut maksimal sesuai dengan perbuatannya," ujarnya. (*)
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved