Sengketa Tanah di desa Suka Ramai: Objek Perkara Salah Alamat, Penggugat Dan Pengacara Terancam Dipolisikan.

By March 16, 2020 71

 

Batu bara (Polmas Poldasu) - Pengaduan ibu katiem pada terlapor atas nama Riswandi Ambarita tentang tuduhan penguasaan tanah berjalan anti klimaks karena berdasarkan pengukuran situasi tanah masing-masing di dua belah pihak oleh pihak kepolisian polres batu bara ternyata ada keanehan letak dan ukuran tanah yang di senketakan.

Berdasarkan surat bukti keterangan tanah masing-masing pihak pada lokasi tanah persawahan di dusun 3 desa suka ramai kec.datuk tanah datar kabupaten batu bara.

Menurut surat yang dikuasai oleh Subari kemudian di hibahkan pada Riswandi Ambarita dengan surat keterangan ganti rugi tanah seluas 1.578,5 M2 dengan nomor surat 520./SR/1992 tanggal 19 Mei 1992.

Berdasarkan pengukuran polisi tersebut tanah sebelah timur lebar 20 mater, sebelah Utara 80 meter, sebelah barat 21 meter, sebelah selatan 74 meter ukuran tersebut persis dengan situasi tanah berdasarkan arah mata angin sebaliknya surat tanah yang di klaim sebagai milik katiem ukurannya panjang maupun lebar berbeda dengan arah mata angin maupun jumlah panjang dan lebar tanahnya. Seperti penyampaian Subari perbedaan ukuran dan arah mata angin yang di klaim milik Katiem ternyata sebelah baratnya 80 m2 sementara surat tanah saya 21 m2, arah selatan punya saya 74 m2 dia 20 m2.

Hal ini menurut Subari tanah dia ukuran nya tidak jelas sesuai dengan posisi arah mata angin, Subari menjelaskan lagi bahwa tanah yg dia beli pada tahun 1992 tanah tersebut sudah saya kerjakan sampai 2005 tidak ada masalah bahkan dia beladang di samping tanah itu, dia diam saja dan tidak pernah memprotes kepada saya, tapi setelah yang menjual tanah ini pergi nama nya Samsudin saya dengar dia pindah ke Jambi tapi saya tidak tau dimana dia berada sekarang, saat pergantian kepala desa kadeni tiba tiba dia mengatakan tanah ini adalah tanah dia apalagidia pernah menawarkan kepada saya untuk berbagi lahan tersebut dibagi dua bagian, dua rante dan dua rante untuk dia, karena alasannya sama sama punya surat dan saya tolak sehingga saya dilaporkan di Polsek labuhan ruku tahun 2005 oleh katiem melalui pengacaranya ampundarmansah (alm).

Namun laporan itu tidak dilanjuti sehingga pada suatu saat mereka menghancurkan tanaman kedelai  dirusak akhirnya saya laporkan kembali ke polres batu bara atas tuduhan perusakan tanaman saya, peristiwa itu terjadi pada tahun 2013 yg saat itu kepala kepala desanya Sustrisno dan camatnya Hanapi ikut juga menyelesaikan kasus tersebut bahkan mengeluarkan surat larangan kepada katiem untuk tidak mengerjakan menguasai dan mengambil tanah atas nama saya untuk menghindari tumpang tindih lahan kepemilikan yang ditanda tangani atas nama camat Hanapi SH pada bulan Agustus tahun 2007 dengan nomor surat 593/425.

Berdasarkan surat surat ini lah yang menguatkan saya sampai saat pengukuran oleh pihak kepolisian polres batu bara satreskrim tipiter yang dipimpin oleh bapak aiptu Wahidin bersama penyidik turun ke kelapangan untuk mengecek kebenaran tanah saya yang saat ini telah saya hibahkan pada Riswandi Ambarita yang saat ini dilaporkan oleh katiem kami tidak gentar karena itu adalah hak kami yang wajib kami pertahankan sampai kapan pun sesuai dengan hukum yang berlaku sementara itu berdasarkan konfirmasi Polmas pada Riswandi Ambarita pasca pengukuran oleh pihak penyidik polres batu bara dia optimis perkara yang dituduhkan kepada saya akan di SP3 kan karena sudah cukup terang benderang tentang perbedaan situasi tanah dan arah mata angin tidak mendukung klaim kepemilikan nya atas tanah saya kata Riswandi kepada Polmas bahkan Riswandi akan menempuh jalur hukum yang lain mengadukan katiem dan pengacaranya ke polisi karena di nilainya telah merusak nama baik atas surat laporan pihak katiem dalam waktu dekat ini ujar Riswandi: (Irwansyah Nasution)

© 2018 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved

Designed by : Invasindo