Petani Galian Gabesasmi Kecewa dengan Rekanan dan PUPR Pakpak Bharat

By February 20, 2021 51
Pakpak Bharat (Tabloid Polmas Poldasu) - Komisi II DPRD Pakpak Bharat bersama beberapa Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) di galian Gabesasmi Tinada meninjai proyek rehabilitasi air di Tinada, Jumat (19/2/2021). 
 
Pada peninjauan tersebut hanya 2 anggota dewan yang turun langsung ke lapangan yaitu ketua Komisi II Lukman Padang, SE (Golkar) bersama Bayar Manik, ST (PKB). Sementara dari dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hanya diwakili kepala bidang irigasi.  
 
Peninjauan tersebut dilakukan komisi II, karena adanya laporan perkumpulan petani pengguna air di galian Gabesasmi Tinada air tidak menggalir selama beberapa bulan yang menyebabkan petani gagal tanam. Kemudian, pada proyek PUPR tahun 2020 senilai Rp800 juta lebih yang dipersoalkan warga. 
 
"Kita turun ke lapangan soal adanya laporan petani pengguna air di Gabesasmi bahwa air mereka beberapa bulan tidak berjalan," kata Lukman. 
 
Lukman mengatakan, setelah melihat langsung proyek irigasi memang ada beberapa ditemukan pekerjaan kurang rapi. Namun dia menyarankan agar PUPR menyarankan rekanan segera memperbaiki. 
 
"Setelah kita tinjau kalau airnya sudah jalan. Soal proyek, memang di beberapa titik ditemukan ada pekerjaan kurang baik. Jadi saya sarankan agar diperbaiki oleh rekanan," kata Lukman. 
 
Lukman pun menambahkan dari peninjauan proyek tersebut memang ada kekurangan. "Misalnya kebocoran-kebocoran masih ada, tentunya itu yang harus diperbaiki. Lagi pula masa pemeliharaannya ini masih belum selesai sampai bulan Juni. Nah, mana kira-kira kwalitasnya kurang bagus saya rasa ini bisa dibongkar dan diperbaiki, itu dulu," ucapnya. 
 
Ditanya soal tindak lanjut usai peninjauan Lukman menegaskan perlu ada perbaikan. "Harus diperbaiki. Saluran air ini pun harus diperbaiki, dan saya sarankan kepada P3A harus berperan," ucapnya.
 
Sementara di lokasi, seorang petani pengguna air Gabesasmi tiba-tiba menghampiri anggota dewan. Namanya Waldi Solin. Dengan terbata-bata Waldi mengaku kecewa dengan rekanan dan dinas PUPR. Kepada Lukman, Waldi selama berpuluh-puluh tahun dia memiliki sawah di galian Gabesasmi tidak pernah gagal panen dan gagal tanam. 
 
"Kalau saya boleh jujur pak wakil rakyat kami, saya ini sudah tua, saya tidak bohong, sepanjang saya memiliki sawah di galian ini tidak pernah gagal tanam. Kalaupun ada proyek tidak pernah saya gagal tanam. Ini tidak, sudah 4 bulan ini sawah kami tidak dialiri air. Sawah kami kekeringan makanya kami tidak bisa menanam padi," kata Waldi kepada Lukman. 
 
Waldi yang mengaku sebagai pengguna air, menjelaskan petani sebenarnya tidak meminta apa-apa dari dinas atau pemborong, namun bagi mereka air lancar dan bangunan bagus itu sudah cukup. 
 
"Permintaan kami pak dewan, air lancar dan bangunan bagi kami sudah cukup. Kami itu yang terpenting, untungnya biarlah sama pemborong. Tapi ini tidak, pekerjaannya pun kurang bagus. Lebih bagus proyek terdahulu dibandingkan saat ini, makanya kami kecewa," katanya. 
 
Ia pun berharap anggota dewan segera menuntaskan persoalan ini. "Kami berharap pak dewan persoalan ini segera diselesaikan. Saya sudah tua, mau makan apa kami. Saya ini tidak bisa kerja keras lagi, makanya itu harapan saya satu-satunya. Apalagi ini sedang covid, mau makan apa kami pak," katanya kepada dewan. 
 
Mendengar pernyataan Waldi, sekretaris partai Golkar Pakpak Bharat pun menyarankan kepada rekanan segera menyelesaikan persoalan ini. "Segerakan itu. Perbaiki mana yang tidak bagus," ucap Lukman di depan warga.
 
Sementara perwakilan dari dinas PUPR Pakpak Bharat Manotar Silalahi pun angkat bicara soal keluhan dari warga pengguna air. "Kalau keluhan orang tua kami, di sana ada tumpukan tanah dan di sana tumpukan tanah itu air kami jalankan dulu baru bisa ditangani. Nah sekarang, kami koordinasi dulu dengan pengguna air, izin nggak mereka kami jalankan air untuk kami tuntaskan itu. Jadi aku berharap juga bantuan teman-teman pers, bantulah kami, komunikasi dengan masyarakat itu, supaya keluhan tadi bisa kami penuhi semua," katanya. 
 
Soal adanya komplain dari masyarakat, Manotar siap mengerjakannya kembali. "Kalau itu kami siap. Kalau misalnya ada tanah di saluran itu, kami siap," katanya. 
 
BPK akan Turun:
Soal kwalitas proyek yang dipertanyakan warga, Manotar mengatakan soal kwalitas adalah merupakan ranahnya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 
"Kalau itu BPK pastui turun kok. Dan saya pikir mereka yang punya legalitas untuk melakukan audit terhadap pekerjaan. Dalam waktu dekat mereka pasti turun setelah pelantikan bupati terpilih, Mereka akan turun dan sama-sama kita tahu apa temuan mereka, kan itu," ucapnya. MT
© 2021 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved