Luka Kecil Bekas Goresan Kuku Sekitar Dada Anaknya. Budianto Minta Uang Perdamaian 70 Juta.

By July 12, 2019 878
LAUT DENDANG- SUMUT (Tabloidpolmaspoldasu) - Dari Pelapor bernama Budianto (42) warga Jl.Perhubungan, Gg.Karto, Desa Laut Dendang, Kec. Ps.Tuan meminta uang perdamaian sebesar Rp.70.000.000,-, (Tujuh puluh juta rupiah) kepada diduga tersangka penganiayaan Riduansah Putra (51) thn, warga Jl.Prof.HM.Yamin, Gg.Ketoprak, no.29, Desa Sei Kera Hilir II, Kec. Medan Perjuangan, Kota Medan yang pada saat kejadian menyewa di Jl. Darmais, Desa Medan Estate. Rabu (10/7/19).
 
Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Riduansah Putra Panjaitan warga Jl.Prof.HM.Yamin, no.29, Gang Ketoprak, Kel.Sei Kera Hilir II, Kec. Medan Perjuangan, Kota Medan terhadap Diki Amanda dan Mhd. Rizki, pada hari Kamis tanggal 21 Maret 2019, sekira pukul 20.00 wib, pelaporannya sudah berulang kali di tolak oleh pihak Mapolsek Percut Sei Tuan, karena tidak adanya cukup bukti yang menguatkan atas laporan tersebut.
 
Hal ini dibenarkan oleh Kapolsek  PS Tuan Komsiaris Subroto, yang mana pelaporan tersebut tertuang dalam laporan korban Nomor : LP/824/III/SPKT PERCUT, tanggal 21 Maret 2019 , Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP.Kap/232/VI/2019/Reskrim, tanggal 25 Juni 2019, Surat Perintah Penahanan Nomor : 207/VI/2019/Reskrim, tanggal 26 Juni 2019 dan Surat Pemberitahuan dimulainya penyelidikan (untuk diberitahukan ke Kejaksaan)Tanggal 26 Juni 2019. Dan sebelumnya laporan ini sudah berulang kali kami tolak, karena tidak adanya cukup bukti yang menguatkan atas laporan tersebut. Dan Riduansah Putra Panjaitan di sangkakan dengan pasal 351 KUHPidana.
 
Pihak keluarga korban sudah berusaha untuk melakukan perdamaian namun memberikan jalan buntu dan pada akhirnya Kapolsek Percut Sei Tuan Komisaris Subroto melakukan mediasi di Kantor Pangulu Laut Dendang. dengan pihak keluarga korban dan tersangka pada hari Selasa tanggal 02 Juli 2019, yang mana dihadiri oleh 3 orang perwakilan dari tersangka dan 8 orang perwakilan dari korban.
 
Ditemui oleh awak media kepada salah satu perwakilan dari pihak tersangka. Begini bang hasil mediasi kami. Dalam mediasi tersebut gak ada jalan keluar untuk perdamaian, dan salah satu dari perwakilan korban bernama SUPRIADI (pemilik Depot I-Bro Water) didepan Kapolsek dan yang lainnya mengatakan" Kami mau berdamai, tapi pihak tersangka harus memberikan uang damai sama kami sebesar Rp.70.000.000,-, (tujuh puluh juta rupiah).ungkapnya.
 
Mendengar hal tersebut seluruh perwakilan dari pihak tersangka sangat kaget, "sesuatu hal yang tidak wajar kalau mau berdamai janganlah sampek kayak gitu, itu namanya bukan damai bang dan ini juga sudah disaksikan Kapolsek Percut Sei Tuan Komsiaris Subroto, kenapa bungkam pak Subroto dan gak ada responya si korban minta uang sebegitu banyak sama.tersangka, sesalnya.
 
Dari penuturan tersebut kru awak media mengkonfirmasi langsung kepada jupier yang menangani kasus ini. Juper mengatakan" pak Riduansah Putra Panjaitan di sangkakan dengan pasal 351 KUHAPidana {tipiring}. Dan kami dari pihak Mapolsek Percut Sei Tuan sudah mencoba adakan mediasi yang langsung dipimpin oleh Kapolsek Komisaris Subtoro. 
 
Kru menanya kepada juper" Apakah tidak ada titik terang dalam mediasi tersebut dan menurut cerita dari perwakilan pihak tersangka, pihak korban minta uang damenya 70 juta pak?
Juper" dalam mediasi gak ada titik temunya, untuk uang damenya minta 75 juta bang,jawabnya.
 
Selanjutnya perwakilan dari pihak tersangka menyerahkan hal ini keadaan ini kepada kuasa hukum, dan kuasa hukumnya langsung menemui dan berkunjung di Mapolsek PS Tuan untuk melihat BAP nya.
 
Pihak kuasa hukum tersangka meminta juper yang menangani kasus ini untuk juga memeriksa saksi-saksi dari pihak tersangka yang benar benar melihat kejadian tersebut untuk dimasukkan dalam berita acara pemeriksaan. Dan juper yang menangani kasus ini pun memanggil para saksi saksi tersebut.
 
Saat ditemui kru awak media kepada kuasa hukum pihak tersangka mengatakan ' Dari hasil kesaksian para saksi mengatakan kami menyimpulkan bahwa pemicunya atau motifnya ini adalah galon air. Menurut ceritanya berawal kejadiannya pada hari Kamis tanggal 21 Maret 2019, sekira pukul 20.00 wib. Riduansah Putra Panjaitan dituduh oleh isteri dari I-Bro water mengambil galonya dengan menjerit diluar "pulangkan galon kami woy" dan anak tersangka keluar menyuruh ibu itu masuk kerumah untuk melihat galonnya dirumah tersangka. Namun ibu itu langsung pergi dan langsung kerumah M.Akhyar Lubis dan mengatakan itu galon kami yang dirumah si Iwan. akhyar bilang itu galon mereka wak. Dan ibu itupun pulang.
 
Selanjutnya angotanya DIKI AMANDA dan Muhammad Rizki pun lewat dan dipanggil.oleh anaknya Riduan Panjaitan bernama Abib " ada apa bos kalian marah marah dan minta galon sama kami?  Itu bukan galon air kalian. Diki Amanda dan Muhammad Rizki menjawab" Gak tahu kami itu dengan nada lantang. 
 
Dan cekcok mulutpun terjadi dan keluarlah tersangka dari rumah dan sorong menyorongpun terjadi didepan rumah tersangka. Dan dilihat ayahnya cekcok mulut abibpun datang merelai. Dengan kuku abib yang panjang ada kemungkinan terkena menggores dada korban. Dan hal inipun dilihat oleh tetangganya bapak sembiring yang pada saat itu sedang membuka Toko jualannya.
 
Pak sembirng juga mengatakan" mereka hanya sorong2 an aja dan DIKI AMANDA dan Muhammad Rizki melawan aja sama Riduansah Putra Panjaitan. Disini aq melihat langsung kejadian itu pas didepan toko jualanku dan tidak ada pemukulan, penganiayaan dalam cekcok tersebut, ungkapnya.
 
Dari kesaksian para saksi tersebut dapat  meringankan atas sangkaan yang dituduhkan kepada pak Riduansah Putra Panjaitan, dan berharap pihak Mapolsek Percut Sei Tuan dapat mempertimbangkan kesaksian para saksi korban sebelumnya untuk dimintai kebenarannya dan kami juga masih mendalami kasus ini, dan saya menilai ada dugaan permainan dalam proses ini.
 
Maka perlu Kita lihat dari awal perkara ini digelar    laporan korban Nomor : LP/824/III/SPKT PERCUT, tanggal 21 Maret 2019 , Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP.Kap/232/VI/2019/Reskrim, tanggal 25 Juni 2019, Surat Perintah Penahanan Nomor : 207/VI/2019/Reskrim, tanggal 26 Juni 2019 dan Surat Pemberitahuan dimulainya penyelidikan (untuk diberitahukan ke Kejaksaan). Nomor : K/220/VI/2019, Tanggal 26 Juni 2019. Sungguh proses yang sangat begitu cepat yang dilakukan oleh Mapolsek Percut Sei Tuan, jawab kuasa hukum.(Redaksi/Tim)
 
 
© 2018 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved

Designed by : Invasindo