Diduga Malpraktik, Tangan Kanan Derita Nadya Harus Diamputasi

By March 05, 2019 33
Medan (POLMAS) - Nadya Syafitri tidak pernah menyangka sama sekali hal buruk akan menimpanya. 
 
Pascakecelakaan sepeda motor 22 Januari 2019 lalu, kini ia harus merelakan tangan sebelah kanannya diamputasi.
 
Ditemui di rumahnya yang berada di Jalan Setia Gang Pertama No 2 Tanjung Rejo, Medan Sunggal, dengan raut wajah sedih, gadis berusia 19 tahun ini menceritakan bagaimana tangan sebelah kanan tersebut akhirnya terpaksa harus diamputasi.
 
“Tanggal 22 Januari kemarin saya akan mengantar orderan ojek online di kawasan Cemara saya sempat terjatuh dari sepeda motor karena menghindari batu kerikil, namun belum sempat berdiri ternyata ada truk dengan muatan pasir yang sudah ada di depan saya dan melindas tangan kanan saya,” ujarnya.
 
Nadya sapaan akrabnya kemudian dibawa ke klinik terdekat. 
 
Namun melihat kondisi tangan kanannya yang parah karena terlindas truk, pihak klinik kemudian menyarankan agar ia dibawa ke Rumah Sakit Pirngadi Medan.
 
“Pukul 15.00 WIB saya sampai di Rumah Sakit Pirngadi Medan, nah disana saya merasa mendapatkan perawatan yang tidak maksimal. Pada dokter dan beberapa orang yang berada di UGD sudah melihat kondisi tangan saya dan juga sudah dilakukan rontgen tetapi perawatan yang saya dapatkan tidak sesuai,” tuturnya.
 
Anak kedua dari dua bersaudara ini menuturkan, hasil rontgen menyatakan bahwa kondisi tulang tangan kanannya tidak bermasalah. 
 
Namun para tim medis yang berada di UGD Rumah Sakit Pirngadi malah memperlakukan tangannya seperti patah.
 
“Jadi tangan saya itu diberi salep dan obat-obatan gitu, terus diperban dan pakai kayu seperti patah tulang. Padahal hasil rontgen baik-baik saja, nah malah mereka tahu kalau yang bermasalah adalah saraf-saraf urat saya yang sudah putus. Namun mereka tetap membungkus layaknya tangan patah tulang,” tutur gadis yang sudah sekitar satu tahun menjadi driver ojek online tersebut.
 
Tak hanya itu, ia juga sebelumnya harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan. 
 
Ia datang pukul 15.00 WIB, namun baru ditangani pukul 21.00 WIB dan hanya dijahit biasa kemudian diperban lalu digips dengan papan.
 
“Setelah selesai itu saya malah langsung disuruh pulang, kalau tidak salah sekitar pukul 23.00 WIB saya disuruh pulang. Padahal kondisi tangan saya itu masih parah dan hanya mendapatkan perawatan biasa malah perawatan yang salah karena bukan patah tulang,” ungkapnya.
 
Beberapa hari setelah itu, Nadya kembali lagi ke Rumah Sakit Pirngadi Medan untuk melakukan cek up dan sempat mengeluhkan kalau tangannya menjadi sangat gatal dan juga merasakan sakit yang sangat luar biasa.
 
“Waktu kontrol kedua, pihak Rumah Sakit Pirngadi malah hanya mengganti perban saja dan kembali memasang gips dari papan itu dan bilang gak usah datang lagi, karena mahal ongkos saya kesana,” terangnya.
 
Setelah kontrol hari kedua tersebut, ia mendapati kondisi tangannya bukan bertambah baik tetapi semakin parah malah melepuh.
 
“Kemudian saya ke rumah sakit lagi tapi bukan ke Pirngadi melainkan ke Rumah Sakit USU. Di sana dokter marah-marah karena kenapa tangan saya bisa sampai parah begini, menghitam bahkan sampai melepuh dan dokter tersebut juga tahu kalau saya bukan patah tulang tapi kenapa digips yang ternyata sudah infeksi,” ungkapnya.
 
Alumni SMKN 10 Medan ini seperti di sambar petir ketika dokter di Rumah Sakit USU mengatakan jalan satu-satunya untuk kondisi tangannya adalah diamputasi karena sudah infeksi dan takut menyebar ke bagian lain.
 
“Kondisi saya sudah busuk, sudah bernanah, padahal awalnya tidak seperti itu. Kondisinya hanya luka-luka bekas jatuh dan berdarah karena saraf urat yang putus dan kemudian saya dirujuk ke Rumah Sakit Putri Hijau untuk mendapatkan penanganan selanjutnya,” tutur gadis yang bercita-cita ingin menjadi Chef ini.
 
Ketika di Rumah Sakit Putri Hijau, kondisi tangannya tersebut semakin parah hingga akhirnya harus diamputasi segar agar tidak menyebar dan iapun menjalani operasi untuk amputasi tersebut.
 
“Saya benar-benar syok, awalnya benar-benar tidak mau diamputasi karena saya pasti akan kehilangan cita-cita saya. Masih banyak yang ingin saya lakukan dan kalau diamputasi bagaimana dengan saya ke depan,” ungkapnya sembari menghapus air matanya.
 
Ia benar-benar tidak habis pikir karena kesalahan penanganan yang didapatnya saat di Rumah Sakit Pirngadi harus membuatnya kehilangan tangan kanannya untuk selamanya.
 
“Saya tidak berencana menuntut walau banyak yang bilang bahwa saya berhak menuntut, namun saya tidak habis pikir kenapa semua ini terjadi pada saya. Apalagi waktu ke Pirngadi itu saya tidak menggunakan BPJS tetapi umum,” jelasnya.
 
Ia benar-benar kecewa dengan pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit tersebut, apalagi ketika ia datang kondisinya benar-benar parah karena tangan kanannya yang berdarah akibat terlindas truk dan penanganan yang ia dapatkan malah membuatnya harus kehilangan tangannya.
 
“Saya kemudian bercerita di sosial media karena saya merasa sangat terpuruk dan kecewa dengan pelayanan dari tim medis di rumah sakit itu dan berharap tidak ada yang mengalami nasib yang sama dengannya,” katanya.
 
Nadya harus melewati tiga kali operasi, yang pertama yaitu operasi amputasi, kedua operasi pengangkatan kelenjar-kelenjar dan yang ketiga ia harus operasi pencangkokan kulit paha untuk kulit tangannya yang telah diamputasi tersebut. 
 
Sementara itu, pihak Rumah Sakit Pirngadi Medan saat dikonfirmasi Tribun terkait kejadian yang menimpa Nadya Syafitri mengaku belum mengetahui dan akan melakukan pengecekan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
 
“Akan kita cek dahulu apakah sempat opname di ruangan mana dan akan kita tindaklanjuti ke pelayanan medis,” ujar Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD Dr. Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin saat dihubungi melalui Whatapps, Minggu (3/3/2019).
 
Ia mengatakan, setelah mendapatkan dari tim medis dan juga pelayanan, akan segera diinformasikan apa sebenarnya yang dialami Nadya tersebut.
 
“Akan saya tindaklanjuti ke pelayanan, kita sama-sama menunggu dari mereka,” katanya. (Red)
 
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved