Baintelkam Polri Kunjungi Pesantren Al-Hidayah

By March 18, 2019 10
Medan (POLMAS) - Mantan napi teroris (Napiter), Ustaz Khairul Ghazali, yang kini aktif mengurus Yayasan Pesantren AL Hidayah binaan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Mabes Polri, menyampaikan, saat ini situasi tidak dapat ditentukan, tetapi harus tetap waspada, dengan serangan radikal, Minggu (17/3/2019).
 
Aparat Keamanan negara harus mewaspadai adanya potensi aksi balas dendam yang dilakukan oleh siapa saja, yang tidak terima saudaranya sesama muslim dihabisi saat di Masjid. Apalagi setelah kejadian penembakan dua masjid di Chirstchurch, Selandia Baru saat salat Jumat (15/3).
 
Ustaz Ghazali yang didampingi AKBP Suhaimy dari Baintelkam Mabes Polri mengatakan, pihak keamanan negara harus bekerja ekstra mendeteksi adanya rencana pelaku teror di Indonesia pascakejadian teror di Selandia Baru, yang menewaskan puluhan jamaah saat Shalat Jumat di Masjid Selandia Baru.
 
Menurut Ustad Ghazali pasti ada para mantan pelaku teror yang sudah insaf dan sudah kembali ke atas dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), naik lagi darah jihadnya saat melihat puluhan umat Islam dibunuh secara keji saat sedang di Masjid.
 
"Sedangkan teroris yang insaf saja marah, bagaimana lagi mereka mereka yang aktif. Tentu hal ini harus diwaspadai bersama karena besar peluang terjadinya potensi aksi balas dendam," tandasnya.
 
Ia menjelaskan bagi para mantan teroris yang sudah insaf saat ini, sangat mudah sekali untuk gabung kembali ke kelompok sel-sel teroris yang baru ini.
 
"Ya kalau mau masuk lagi, ibarat seperti menggelinding saja, langsung masuk, karena punya bahasa yang sama, tujuan yang sama dan pemikiran yang sama. Malah kalau mantan teroris yang gabung kembali, itu maqom nya lebih tinggi lagi, dan pasti akan di dengar cakapnya," tandasnya.
 
Kelompok teroris yang ada saat ini di Indonesia, kata dia, adalah bagian baru sudah berafiliasi ke ISIS lalu bermarkas di Suriah, termasuk kejadian di Sibolga kemarin.
 
"Menjadi teroris itu tidaklah mudah, butuh tahapan yang panjang. Mulai dari proses rekrutmen, halaqah atau semacam kelompok kecil yang isinya tidak lebih dari 10 orang. Dan di halaqah itulah langsung di cuci otak. Lalu Bai'at, janji setia untuk mati fisabililah jihad. Lalu amaliyah seperti bunuh polisi, rampok bank, bom bunuh diri dan lain sebagaianya. Jadi bukan belajar dari google, langsung lakukan teror," kata dia.
 
Pada saat kejadian di Sibolga, Ustad Ghazali mengaku intens berkomunikasi dengan Kepala BNPT terkait bagaimana membujuk agar si istri Abu Hamzah tidak sampai meledakkan diri.
 
Namun usulan Ustad Ghazali ditolak oleh Polisi sehingga terjadilah bom bunuh diri yang menewaskan istri dan anak Abu Hamzah.
 
"Saya tahu bahasa apa yang digunakan untuk membujuk, dan saya ngerti bagaimana berkomunikasi dengan mereka. Jadi bisa lebih mudah untuk membujuk mereka dan menyerahkan diri ke polisi," tandasnya.
 
Pria berkacamata ini bersyukur dengan sudah berdirinya Pesantren Al Hidayah ini, sebab di pesantren ini ada program khusus deradikalisasi dan traumatic center bagi anak-anak pelaku teror.
 
Menurutnya, pesantren ini mengajarkan anak anak pelaku teror tentang Islam sebagai agama yang damai, penuh cinta dan agama tanpa kekerasan.
 
Dulu saat awal berdiri masih banyak anak-anak pelaku teror yang sangat benci dengan polisi. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, banyak di antara mereka yang sadar dan bahkan anak-anak itu sudah banyak yang bercita'cita jadi Polisi maupun Tentara.
 
"Ada itu, orang tuanya yang sudah tinggi tingginya semangat berjihad, kini menjadi turun karena melihat anaknya dan mendengar nasehat anak-anak mereka," tandasnya.
 
Saat ini jumlah siswa pesantren Al Hidayah berjumlah 24 orang. 20 orang anak anak pelaku teror dari penjuru Indonesia dan 4 orang lainnya adalah masyarakat sekitar.
 
Sementara itu, AKBP Suhaimy beserta rombongan datang ke Pesantren Al Hidayah bertujuan untuk menyerahkan bantuan mesin penetas telur ayam kampung ke Pesantren Al Hidayah untuk nantinya digunakan untuk melancarkan usaha peternakan ayam kampung yang dikelola para santri.
 
Suhaimy mengatakan, Polri sangat berharap agar Pesantren Al Hidayah menjadi tempat penangkal Islam radikal, Islam yang cinta dan menjadi tempat lahirnya bibit bibit perdamaian dari para anak anak pelaku teror.
 
"Polri ingin agar Ustaz Ghazali berkontribusi lebih dan memberi pencerahan yang baik kepada para ikhwan-ikhwan di luar sana, agar berbagai potensi teror tidak terjadi dan diatasi sejak dini. Kami berharap agar ada kemajuan dalam hal deradikalisasi," ujarnya.
 
Suhaimi mengatakan, Polri senantiasa memperhatikan aktivitas di Pesantren Al Hidayah, terutama soal meningkatkan pemberdayaan ekonomi di lingkungan ini.
 
"Alhamdulillah, sekarang di pesantren sudah ada peternakan ikan, ayam kampung dan lain sebagaianya. Dan sekarang juga sudah ada mesin penetas ayam kampung, jadi guru guru dan santri bisa berwirausaha dengan baik. Dengan menjadikan anak-anak yang hebat untuk ke depanya," ujar dia. (*)
 
 
© 2019 Tabloid Polmas Poldasu. All Rights Reserved